Bandara Banyuwangi Dapat Suntikan Dana Rp 400 Miliar

24700

BANYUWANGI (INDOPETRO) – Pesatnya pertumbuhan pariwisata di Banyuwangi disambut PT Angkasa Pura II. Bandara Banyuwangi akan mendapat suntikan dana hingga Rp 400 miliar.

Perpanjangan runway hingga perluasan parkir menjadi target utama. “Pertumbuhan pariwisata di Banyuwangi sangat cepat. Banyuwangi punya prospek yang sangat bagus. Kondisi ini harus terus didukung. Untuk itu, anggaran Rp 400 Miliar disiapkan untuk pengembangan bandara,” kata Dirut PT. Angkasa Pura II Bandara Banyuwangi M. Awaluddin pada Minggu (18/2).

Bandara Banyuwangi ditargetkan bisa menampung tujuh pesawat. Dengan rincian enam pesawat berbadan ramping jenis Boeing 737-500, ditambah tempat parkir satu pesawat badan lebar ala Boeing 747. Untuk itu, apron bandara akan diperluas jadi 1,8 hektare.

Diterangkan Awaluddin, alokasi anggaran untuk bandara itu sebenarnya Rp 300 Miliar. Namun, jumlah investasi ditambah Rp 100 Miliar. Ke depan, bandara itu diperkirakan akan memiliki banyak fungsi.

Skenario besar telah disiapkan untuk Banyuwangi. Nantinya, bandara di sana akan diplot sebagai penyangga Bandara Ngurah Rai, Bali. Utamanya untuk pertemuan IMF-World Bank pada Oktober mendatang.

Bersama Lombok, Banyuwangi akan menjadi lokasi alternatif parkir pesawat peserta pertemuan tersebut. Menurut Awaluddin, ada keuntungan lain yang bisa diraih dari kebijakan itu. “Kalau semua parkir di Denpasar itu tidak mungkin. Alternatifnya Banyuwangi dan Lombok. Mereka sekalian bisa berwisata di sana,” kata Awaluddin menambahkan.

Untuk mendukung rencana itu, landasan Bandara Banyuwangi sedang diperpanjang menjadi 2.500 meter. Nantinya, bandara ini akan memiliki lebar 30 meter. Pengembangan runway ditarget kelar Agustus. Panjang runway akan ditingkatkan lagi menjadi 2.800 meter dan lebar 45 pada 2019. Bandara Banyuwangi akan dikembangkan jadi internasional. Jadi, para wisman bisa langsung ke Banyuwangi.

Untuk sementara, Bandara Banyuwangi masih melayani flight domestik. Ada empat maskapai yang melayani penerbangan rute Jakarta dan Surabaya. Yaitu Garuda Indonesia, Wings Air, Nam Air dan Citilink. Total ada 14 flight yang keluar-masuk daerah yang dijuluki The Sun Rise of Java itu.

Potensi kerjasama dengan beberapa maskapai internasional terus dilakukan. Salah satunya Jetstar dari Australia. Pihak Jetstar sangat tertarik. Mereka bahkan sudah buat analisa dan kajian-kajian. Survey lapangan juga sudah dilakukan. Jetstar juga meminta penambahan fasilitas bandara, seperti counter keimigrasian.

Potensi rute internasional ke Malaysia dan Singapura juga digali. Geliat bandara milik The Sun Rise of Java sebanding dengan arus masuk wismannya. Pada 2017 lalu, sekitar 91.000 wisman masuk Banyuwangi. Padahal, pada 2010 kunjungan wisaman hanya tercatat 5.205 orang. Peningkatan ini membuat Banyuwangi mampu meraup devisa hingga Rp 546 Miliar.

Perkembangan Bandara Banyuwangi langsung direspon Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurutnya, Kemampuan Banyuwangi mendatangkan wisatawan sangat bagus. Hampir 100.000 wisman setahun. Angka ini sangat bagus, terutama bagi industri penerbangan. Sebab, pariwisata Banyuwangi baru saja berbenah.

Lonjakan besar juga terjadi pada wisnus. Angka 497.000 wisnus di 2010 melonjak jadi 4,01 juta orang pada 2016. Menpar menyebut destinasi Banyuwangi memenuhi aspek 3A, yaitu amenitas, aksesibilitas, dan atraksi.

“Kemenpar terus mendorong daerah untuk maju. Untuk Banyuwangi, atraksi, amenitas, dan aksesibilitas sudah bagus. Agar potensi ini terus berkembang, maka membuka rute internasional jadi opsi ideal,” kata Arief.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*