Fikih EBT Dorong Warga Peduli Energi Hijau

13500
METI : Beri Insentif Pelaku Bisnis EBT
Foto : greeners.co

JAKARTA (INDOPETRO)- Persoalan pengembangan energi, khususnya Energi Baru Terbarukan (EBT) rupanya bukan semata menjadi tanggungjawab dan monopoli kalangan insinyur bidang energi saja. Kalangan agamawan pun memiliki concern dan tanggungjawab terhadap energi. Pasalnya, persoalan energi telah menjadi kebutuhan dasar manusia.

Mempertimbangkan betapa masalah energi berkorelasi positif dengan tingkat produktifitas dan hajat hidup orang banyak, maka wajib hukumnya pemerintah untuk menyediakan energi murah, terjangkau oleh publik dan ramah lingkungan.

“Haram hukumnya membiarkan proyek-proyek energi mangkrak terbengkalai sekian tahun, seperti beberapa proyek PLTS belakangan ini,” kata Marzuki Wahid, editor buku Fikih Energi Terbarukan, Kamis (15/2/2018) di Jakarta. Pembiaran proyek energi terbarukan tersebut dianggap menyia-nyiakan harta (idha’atul mal).

“Perbaikan proyek PLTS dan pembangkit energi lain menjadi tangggung jawab pemerintah,” tegasnya.

Buku Fikih Energi Terbarukan diluncurkan oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU), pada Kamis (15/2/2018) di Jakarta. Buku tersebut lebih fokus membahas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Surya).

Menurut Marzuki, kalangan ulama menaruh perhatian terhadap energi karena ia juga berkaitan dengan persoalan sosial kemasyarakatan. “Bukan hanya teknis dan teknologi saja. Misalnya, ada sebagian orang bertanya tentang apa hukumnya bagi mereka yang menghibahkan tanahnya untuk dipergunakan sebagai lahan pembangkit listrik tenaga surya,” kata Marzuki. “Apakah bisa dikategorikan sebagai amal jariyah,” tanyanya.

Atau, pertanyaan lain seperti, “Bolehkah anggaran negara (APBN, APB-des), digunakan untuk pembangunan PLTS?” ujar Marzuki.

Atau, bolehkah iuran warga dipergunakan untuk membangun jaringan pembangkit listrik energi ramah lingkungan? Hal-hal kecil dan mendasar seperti itulah yang diulas dalam buku Fikih Energi Terbarukan. Dengan melibatkan nuansa agama, diharapkan timbul kesadaran dan partisipasi warga masyarakat, khususnya kalangan muslim untuk peduli dan ikut membangun bangsa melalui pembangkitan energi terbarukan.

Sementara itu, Said Aqil Siradj, Ketua Umum PB NU, mengapresiasi pendekatan fikih dalam isu energi terbarukan, terutama dalam pengembangan energi terbarukan tenaga surya.

“Penulisan buku ini didahului dengan kegiatan Bahtsul Masail yang merupakan ciri khas NU dalam mencari jawaban atas problematika keagamaan di masyarakat. NU mendukung segala bentuk pengembangan energi terbarukan, baik melalui program kajian atau pendampingan yang diinisiasi swasta maupun pemerintah,” kata Said. Dia juga mengemukakan bahwa buku Fikih Energi Terbarukan menampilkan penjelasan secara sharih (jelas) tentang kerusakan alam, meningkatnya emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Setelah itu dijelaskan pengertian, jenis, problem dan pengembangan energi terbarukan. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*