1.300 Tour Guide Disiapkan untuk Sambut Wisman Cina Saat Imlek

30800

DENPASAR (INDOPETRO) – Kunjungan wisatawan asal Cina ke Bali semakin meningkat jelang Imlek 2018. Untuk menjamu para turis, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) menyiapkan 1.300 tour guide berbahasa mandarin.

Perayaan Imlek 2018 akan berlangsung pada Jumat (16/2/2018). Kini sudah banyak berdatangan wisatawan Cina yang akan merayakan Imlek di Pulau Dewata. Maka dari itu sesuai laporan dari Divisi Mandarin, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) telah menyiapkan 1.300 guide bahasa Mandarin. Mereka akan disebar saat Imlek. Seperti yang diungkapkan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) HPI, Sang Putu Subaya di Denpasar pada Rabu (14/2/2018).

Meski memiliki banyak SDM, pria yang akrab disapa Sangtu itu mengaku tetap berjaga-jaga jika terjadi lonjakan permintaan guide. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Asita, pola kedatangan turis Tiongkok mulai bergeser dari grup ke pola free independent traveller (FIT).

“Kalau berbicara kurang atau tidak, tentu harus disandingkan dengan data statistik, kira-kira berapa kebutuhannya dan ekspektasi kedatangannya. Terlebih ada perubahan pola, dari biasanya datang secara grup atau berkelompok, sekarang turis ini berangkat hanya 2-4 orang,” kata Sang Putu.

Dengan pola baru tersebut, kebutuhan guide akan lebih banyak. Karena turis yang datang akan mengambil satu guide. Jika tadinya 30 orang mengambil satu guide, sekarang dipecah lagi. Turis yang datang sendiri-sendiri juga membutuhkan guide. Faktor itu yang harus dikalkulasi Asita dan HPI untuk menentukan jumlah guide.

Selama ini, Bali menjadi salah satu tujuan favorit wisman asal Tiongkok. Mengacu pada data BPS, wisman Tiongkok yang berlibur ke Pulau Dewata mencapai 1,38 juta orang sepanjang 2017. Jumlah itu meningkat 395.079 orang atau 39,88 persen dibandingkan 2016 yang tercatat 990.771 orang.

Sebagian besar wisatawan Tiongkok berkunjung ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai, langsung dari negaranya. Wisatawan yang berkunjung lewat jalur laut menggunakan kapal pesiar, tercatat hanya 272 orang. Di Bali, warga Tiongkok rata-rata untuk menikmati panorama alam, serta keunikan seni dan budaya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya memberikan perhatian serius terhadap pemandu wisata berbahasa Mandarin. Sebab, belakangan turis asal Tiongkok membanjiri seluruh penjuru dunia, termasuk Bali. Menpar menilai jumlah pemandu wisata berbahasa Mandarin yang ada masih kurang. Hal ini perlu segera diatasi.

Tiongkok menjadi pasar utama wisman 2018, karena total nilai dari size, sustain (growth), dan spread (spending) tertinggi. Mencapai 92 persen. Sedangkan posisi kedua Eropa mencapai 77 persen. Keunggulan pasar wisman Eropa pada spread atau spending.

Menurut Arief, pengeluaran wisatawan asal Eropa rata-rata mencapai 1.538 Dolar AS per wisman dalam setiap kunjungan. Sedangkan wisatawan Tiongkok 1.019 Dolar AS. Meskipun jumlah wisatawan Tiongkok lebih besar, untuk perolehan devisa atau spread wisatawan Eropa lebih unggul mencapai 2,6 miliar Dolar AS. Sedangkan devisa dari wisatawan Tiongkok sebesar 1,9 miliar Dolar AS.

“Hampir semua destinasi dipenuhi turis Cina. Masuk akal, karena ada 120 juta outbound China di 2015. Pada 2016 naik, 2017 semakin naik lagi. Di Bali pun begitu. Pada 2016 Bali didominasi wisman Australia. Tapi pada 2017 dominasi itu sudah tergeser oleh wisman Cina,” kata Arief.

Dijelaskannya, persoalan guide berbahasa Mandarin tidak hanya dialami Bali. Negara tetangga seperti Thailand, mengalami masalah yang sama. “Bedanya dengan Thailand, mereka mempelajarinya dan sudah mulai banyak yang bisa berkomunikasi Mandarin. Lagi-lagi, ini tantangan Indonesia untuk mengejar ketinggalan dalam hal guide yang bisa berbahasa Mandarin,” kata Arief mengakhiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*