Pariwisata Menjelma Jadi Sektor Primadona di Riau

3600

RIAU (INDOPETRO): Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas (migas) terbesar di Indonesia. Namun kini pemerintah provinsi (pemprov) melirik pariwisata untuk menambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Seperti pengakuan Gubernur Riau, H. Arsyadjuliandi Rachman, migas tidak lagi menjadi primadona. Terlebih setelah adanya pengurangan dan perimbangan dana bagi hasil (DBH) dari pemerintah pusat. Hal tersebut menyebabkan defisit anggaran kas daerah menjadi kosong.

“Provinsi Riau mulai melirik dan menggencarkan pengembangan sektor pariwisata. Salah satu buktinya dengan Program Riau Menyapa Dunia,” kata Arsyadjuliandi pada Minggu (11/12/2018).

Ternyata, perubahan itu membawa grafik yang baik dan Riau mengalami kemajuan yang pesat. Dalam laporan Kementerian Pariwisata, Riau menempati urutan kedua dalam daftar pengembangan wisata, setelah Sulawesi Utara.

Menurutnya, perubahan dilakukan karena Riau memiliki potensi besar dalam hal pariwisata. Sejumlah kawasan wisata Riau juga menjadi lokasi penelitian sumber daya alam. Sebab, di Riau banyak satwa dan tumbuhan yang bisa dipelajari karena masih asri.

“Riau sudah punya Pantai Rupat dengan pasir putih, Ombak Bono dan kawasan Tesso Nilo. Kemudian semakin lengkap dengan seni dan budaya di Riau yang beragam,” ujar Arsyadjuliandi menambahkan.

Kebijakan Pemerintah Provinsi Riau membuahkan hasil. Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat tajam, menembus angka Rp 4,2 triliun. Pariwisata menjelma menjadi sektor primadona di Riau.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau Fahmizal mengatakan, besarnya PAD yang dihasilkan pariwisata tidak terlepas dari jumlah kunjungan wisatawan. Sepanjang 2017, sebanyak 101.904 wisatawan mancanegara (wisman) masuk ke Riau. Jumlah itu meningkat 44.388 atau menembus 177,2 persen dari target 2017.

Industri pariwisata Riau memang pantas bergembira. Maklum, wisatawan yang menginap terkoreksi positif. Pada 2017, rata-rata lama waktu tinggal wisatawan mencapai 3,54 hari. Melebihi target 3,40 hari. Apalagi kehadiran wisatawan juga memberikan transaksi perekonomian melalui pembelian oleh-oleh.

“Kalau dibandingkan dengan 2016, selisihnya jauh. Sebab, jumlah kunjungan wisman 2016 hanya 66.130 dengan target 54,388 orang,” kata Arsyadjuliandi melanjutkan.

Melihat prospek yang terus meningkat, Riau langsung mematok target 60.824 buat wisatawan mancanegara. Naik 3.308 wisman untuk 2018. Sedangkan 2019, targetnya ditambah 64.332 wisman. Sementara itu, wisatawan nusantara dipatok 6.550.120 orang di 2018. Kemudian target itu akan terus ditambah di 2019, menjadi 6.828.150 orang.

Target rata-rata lama tinggal menjadi 3,75 hari di 2018. Sedangkan 2019 durasinya menjadi 3,90 hari. Guna memperbesar jumlah wisatawan ke Riau, pemprov sudah melakukan beberapa upaya. Salah satunya terus berinovasi mengembangkan destinasi, di antaranya dengan Kampung Selfie di Tembilahan.

Selain itu, Riau juga tengah mengonsep wisata bahari terpadu Pantai Marina Puak segera berdiri di Dumai. Pantai itu akan dibangun panggung hiburan besar, pusat cenderamata, serta sarana pendukung lainnya.

Pundi-pundi kunjungan wisatawan bisa semakin membludak buat menikmati pariwisata di Riau, terlebih kemudahan akses kian dilancarkan. Mulai dari udara, laut hingga darat sekaligus. Untuk jalur darat dihubungkan oleh jaringan jalan yang tersambung dari arah Padang di sebelah barat, Medan di sebelah utara, dan Jambi di sebelah selatan.

Di sisi udara, Bandara Sultan Syarif Kasim II menjadi salah satu bandar udara tersibuk di Sumatera, dan dicanangkan menjadi bandara internasional. Sedangkan dari jalur laut Riau memiliki banyak pelabuhan. Hingga kini pembenahan terus dilakukan pada sejumlah pelabuhan dan akan dijadikan ikon pertumbuhan di Riau dan Indonesia.

Beberapa pelabuhan di Riau di antaranya Pelabuhan Dumai yang berada 200 kilometer dari Kota Pekanbaru dan Pelabuhan Bandar Sri Laksamana Bengkalis. Kemudian ada Pelabuhan Tanjung Harapan Selat Panjang Kepulauan Meranti, Pelabuhan di Kuala Enok Indragiri Hilir, Pelabuhan Internasional di Siak, Pelabuhan Panipahan Rokan Hilir dan Pelabuhan Sungai Duku di Pekanbaru.

Riau berada di pintu gerbang internasional, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Sehingga mempengaruhi pertumbuhan di sektor industri dan pariwisata. Pelabuhan-pelabuhan ini terus dibenahi karena menjadi ikon pertumbuhan di Riau.

Pariwisata Riau berkembang pesat. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengakui itu. Bahkan, Menpar menyebut Riau sebagai contoh untuk wilayah Indonesia lain. Terlebih, Riau mempunyai pemikiran yang keren dalam menjaring PAD melalui pariwisata.

“Let’s think smart, itulah yang dilakukan oleh Riau. Pesona pariwisata Indonesia semakin lengkap, di mana Riau memanfaatkan pariwisata sebagai lumbung utamanya. Provinsi Riau keren!,” Kata Arief Yahya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*