Laba PGN Terjun Bebas, Sinyal Berbahaya

33600
Laba PGN Terjun Bebas, Sinyal Berbahaya
Foto : bumn.go.id

JAKARTA (INDOPETRO)- Terjun bebasnya laba PT PGN ibarat lampu kuning. Setidaknya demikian diungkapkan oleh Guru besar Universitas Indonesia (UI) Profesor Budyatna.

Menurut Budyatna, anjloknya laba bersih PT Perusahaan Gas Negara (PGN) selama lima tahun terakhir adalah sinyal berbahaya bagi perusahaan. Dalam kurun waktu 2012-2017, laba bersih Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut terus terjun bebas hingga 87,64 persen.

“Sangat berbahaya! PGN adalah badan usaha milik negara. Mengapa tidak terdeteksi sejak awal? Kalau turun hanya satu tahun lalu naik lagi tidak mengapa. Tetapi ini terus menerus dengan angka penurunan yang fantastis,” kata Budyatna pada sejumlah media, Kamis (8/2/2018) di Depok Jawa Barat.

Dalam waktu lima tahun, laba bersih PGN memang terus anjlok. Jika pada 2012, BUMN itu meraup USD890 juta, maka pada 2013 turun menjadi USD804 juta. Pada 2014-2016, laba bersih PGN selalu tergerus, dari USD711 juta, USD401 juta, dan USD304 juta. Sedangkan pada 2017, diperkirakan hanya sebesar USD110 juta.

Kondisi berbeda diperlihatkan anak perusahaan Pertamina yang bergerak pada sektor yang sama, PT Pertamina Gas (Pertagas). Sejak 2012-2017, laba bersih Pertagas relatif stabil. Dalam kurun waktu tersebut, laba bersih Pertagas meningkat 16,67 persen, yakni USD120 juta pada 2012 dan USD140 juta pada 2017. Bahkan pada 2018, laba bersih Pertagas sudah melampaui PGN. “Ini menunjukkan, bahwa Pertagas jauh lebih sehat dibandingkan PGN,” jelas Budyatna.

Menurut Budyatna, tren penurunan laba bersih PGN memang memunculkan tanda tanya besar. Pasalnya, dari sisi aset, BUMN itu jauh lebih besar dibandingkan Pertagas. Dari sanalah Budyatna melihat, adanya kesan menutup-nutupi persoalan ini. Apalagi, hingga saat ini tidak ada respons dari Pemerintah untuk segera menyehatkan kembali BUMN tersebut. “Mengapa Presiden sampai tidak tahu? Jangan-jangan memang sengaja ditutup-tutupi. Biasa, ABS,” lanjut Budyatna.

Dalam konteks inilah Budyatna mempertanyakan konsep Holding BUMN Migas yang justru diawali adanya akuisisi Pertagas kepada PGN. Menurutnya, sangat tidak masuk akal perusahaan yang sakit mengakuisisi perusahaan sehat. “Harusnya, Pertagas yang sehat yang mengambil alih PGN,” tegasnya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*