APBI: Kurang Fair Kalau PLN Minta DMO Batubara Turun

8500
APBI: Kurang Fair Kalau PLN Minta DMO Batubara Turun
Foto : youtube.com

JAKARTA (INDOPETRO)- Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) keberatan saat PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) meminta pemerintah menurunkan harga dalam negeri (DMO/Domestic Market Obligation) batubara. Hal ini memberatkan para pengusaha pertambangan.

“Saya kira kurang fair aja. Dulu waktu harga batubara turun di tahun 2012-2016 kami minta opsi harga yang wajar tapi tidak digubris. Sekarang harga tinggi malah minta diturunin,” kata Direktur Eksekutif APBI, Hendra Sinadia melalui telepon, Rabu (7/2/2018). Hendra menambahkan, batubara merupakan komoditas, harganya fluktuatif. Sehingga sangat wajar jika saat ini harganya naik, bisa turun di masa mendatang.

Saat harga batubara menempati titik terendahnya dalam empat tahun kemarin pengusaha terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran. “Banyak PHK (pemutusan hubungan kerja) terjadi. Lihat saja di Balikpapan dan wilayah pertambangan lain, sepi semua,” katanya.

Penurunan DMO tidak hanya merugikan pengusaha, tapi juga pengusaha. Menurut Hendra, kalau harga dalam negeri diturunkan, akan ada distorsi harga antara harga ekspor dan DMO. Sehingga peluang kecurangan sangat besar. Terlebih cadangan batubara nasional akan terancam.

“Kami memang memahami jika penurunan DMO adalah demi memenuhi kebutuhan rakyat atas listrik yang murah. Memang masih dirumuskan lagi formula yang tepat agar ketiga pihak (pemerintah, PLN, dan pengusaha) terpuaskan,” jelas Hendra.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), lanjut Hendra, masih berusaha memfasilitasi semua pihak untuk menemukan formula harga yang tepat. Setelah diskusi di awal Februari lalu, Menteri Ignasius Jonan mengagendakan pertemuan selanjutnya di 1-2 minggu yang akan datang.

Ditanya perkiraan harga yang masih ditolerasi pengusaha, Hendra mengakui tidak bisa disamaratakan. Setiap penambangan memiliki kriteria dan cadangan yang bervariasi yang berimbas pada biaya operasi dan angkut yang bervariasi pula.

“Sebenarnya HBA (harga batubara acuan) sudah pas menurut kami, kan biasanya di bawah rata-rata. Tapi itu pun PLN masih keberatan,” kata Hendra. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*