Wamen Arcandra Sebut Pengembangan  EBT Terkendala Pendanaan

16700
Wamen Arcandra Sebut Pengembangan  EBT Terkendala Pendanaan
istimewa

indoPetroNews- Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) terkendala masalah pendanaan walaupun potensinya sangat melimpah. Demikian salah satu poin persoalan yang diungkapkan oleh Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar dalam sambutannya pada acara Dies Natalis ke 2 Universitas Pertamina di Simprug, Jakarta Selatan.

“Pihak perbankan lokal Indonesia memberikan suku bunga antara 11% – 12%. Padahal di Malaysia memberikan  sekitar 5% suku bunganya,” kata Arcandra. Belum lagi pendanaan untuk sektor minyak dan gas bumi (migas).

Dia juga mengakui bahwa potensi EBT yang melimpah tetapi belum termanfaatkan secara maksimal. “Energi berbasis fosil mendominasi,” kata Arcandra.

Lebih jauh Arcandra mengungkapkan tentang beberapa potensi EBT. “Energi Biomas potensinya sekitar 32 Giga Watt (GW) di Belitung,” tandasnya. Ada pula energi air dengan kapasitas potensi sekitar 75 GW.

Disamping itu, ada lagi energi angin dengan potensinya sekitar 60 GW. Untuk energi laut potensinya sebesar 18 GW. Untuk energi laut potensinya sekitar 17,9 GW. Sedang energi surya potensinya sekitar 200 GW. “Saat ini kapasitas terpasang dari EBT baru sekitar 60 GW,” ujar Arcandra.

Arcandra  juga membandingkan pengembangan EBT, khususnya energi surya di negara-negara Arab dengan Indonesia. “Energi surya di Timteng itu tarifnya dibawah 3 sen,” tandasnya.

Arcandra juga memaparkan beberapa kendala pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pertama, lahan yang diperuntukkan bagi pengembangan PLTS di negara-negara Timur Tengah itu free. Sedangkan di Indonesia tidak ada yang gratis. Kedua, kualitas matahari di negara-negara Timur Tengah (Timteng) berkisar 24%. Sedang di Indonesia belum sampai 24%.

Ketiga, pengembangan PLTS di negara-negara Timteng dibebaskan pajak. Sedang di Indonesia masih dikenakan pajak. Keempat, PLTS di negara-negara Arab dalam skala besar, sekitar 200 Mega Watt (MW). Sedangkan di Indonesia, skala PLTS nya masih kecil. Kelima, pick loud di negara-negara Arab pada siang hari. “Kita dimalam hari,” kata Arcandra, seraya menambahkan interes rate di negara-negara Arab dibawah 2%.

Pada akhir sambutannya, Arcandra meminta agar Universitas Pertamina mampu menjawab tantangan dunia industri. Karena Universitas Pertamina disupport oleh Pertamina, yang sarat industri. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*