PEP Bor 83 Sumur Pengembangan & 146 Sumur Workover

33400
PEP Bor 83 Sumur Pengembangan & 146 Sumur Workover
Foto : jawapos.com

indoPetroNews- PT Pertamina EP (PEP), anak usaha  PT Pertamina (Persero) yang merupakan kontraktor kontrak kerja sama di bawah supervisi dan koordinasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu (SKK Migas), menargetkan produksi minyak dan gas (migas) pada 2018 sebesar 253,202 juta barel minyak ekuivalen per hari (MBOEPD) atau naik tipis dari realisasi produksi migas 2017 sebesar 253 MBOEPD.  Sementara target pendapatan pada 2018 sebesar US$ 2,78 miliar, lebih besar dari realisasi pada 2017 senilai US$ 2,76 miliar.

“Kenaikan produksi pada 2018 diharapkan didapat dari beberapa  kegiatan  pemboran sumur pengembangan dan workover yang sudah dilakukan. Tahun ini akan dilakukan program pemboran 83 sumur pengembangan dan 146 sumur workover,” ujar Presiden Direktur PT Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf, Rabu (31/1/2018) di Jakarta.

Beberapa lapangan yang diharapkan memberikan kontribusi besar adalah lapangan Bunyu di Kalimantan Timur serta beberapa lapangan lain di Asset 2 yang selama 2017 memberikan kontribusi besar. Sementara untuk produksi gas diharapkan dari beberapa proyek yang sudah siap produksi atau onstream.

“Kalau dirinci, produksi gas di 2018 lebih kecil dibandingkan realisasi produksi di 2017  karena ada planned shutdown di Lapangan Subang, Jawa Barat dan Matindok di Banggai, Sulawesi Tengah  karena kilang PT Donggi Senoro LNG ada turn around. Namun dari akumulasi produksi migas lebih besar dibandingkan realisasi pada 2017,” jelas Nanang.

Selain beberapa lapangan yang diharapkan memberi kontribusi dalam peningkatan produksi Pertamina EP di 2018, kenaikan produksi didapatkan dari komitmen pelaksanaan penyusunan rencana kerja berdasarkan skala prioritas bersama SKK Migas dan PT Pertamina (Persero) serta sinergi yang dilakukan dengan anak perusahaan lain.

Dengan kenaikan target produksi, lanjut Nanang, pendapatan juga akan ikut tergerek.
Selain itu, kenaikan pendapatan diproyeksikan dari harga minyak yang masih akan terus membaik atau setidaknya masih sama seperti akhir 2017. “Yang terpenting juga untuk bisa meningkatkan pendapatan adalah pelaksanaan program sesuai target waktu, anggaran dan kualitas berdasarkan skala prioritas dan efisiensi,” katanya.

Pada bagian lain, Nanang menjelaskan soal peningkatan cadangan migas. Tahun ini Pertamina EP merencanakan pemboran proving up sebanyak 23 sumur dari Asset 1 sampai Asset 5. Kegiatan lain yang dilakukan yakni pembuatan rencana pengembangan atau rencana pengembangan (POD) dari struktur temuan baru eksplorasi seperti seperti sumur Karang Makmur dan Benggala. Selain itu, aktivitas pembuatan rencana pengembangan jangka panjang (POFD) di sumur Betung, Semberah, North Mahakam Phase 2, Kenali Asam dan Belimbing. Ada juga kegiatan reassessment pemutakhiran data di struktur Musi Barat.

“Total semua upaya yang dilakukan tersebut sebesar 55,59 juta barel minyak ekuivalen (MBOE). Dan per 1 Januari 2018, total cadangan migas yang dimiliki Pertamina EP sebesar 1.940,15 MBOE,” ujarnya.

Nanang menyebutkan, sepanjang 2017 perseroan mencatatkan laba bersih sebesar US$615 juta, naik 4,4% dibandingkan laba bersih 2016 yang tercatat US$ 589 juta. Kenaikan laba bersih tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan usaha dari US$2,49 miliar pada 2016 menjadi US$ 2,76 miliar pada 2017.

Pendorong peningkatan laba bersih juga berasal dari stok minyak yang dikeluarkan (dijual) tahun lalu sehingga lifting mencapai 77.900 barel per hari, lebih tinggi dari produksi rata-rata sepanjang 2017 sebesar 77.200 barel per harii (bph). Kenaikan laba juga ditopang oleh harga minyak mentah global yang membaik pada akhir tahun lalu. Apalagi, mulai akhir 2017 harga minyak global mencapai US$70 per barel untuk minyak Brent. “Ini membantu kenaikan laba bersih Pertamina EP,” ujar Nanang.

Sepanjang 2017, Pertamina mencatakan produksi migas sebesar 252 MBOEPD atau 96% dari target dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP). Realisasi produksi migas tersebut terdiri atas 77.200 bph produksi minyak atau 91% dari target dan 1.018 juta standar kubik kaki per hari (MMscfd) gas yang mencapai 98% dari RKAP.

Pertamina EP Asset 2, unit bisnis Pertamina EP, memberi kontribusi migas terbesar. Sepanjang 2017, Pertamina EP Asset 2 yang terdiri atas empat lapangan, yaitu Prabumulih, Limau, Adera, dan Pendopo,  memberikan kontribusi minyak bagi Pertamina EP sebesar 22,5% atau 17.394 bph. Sedangkan produksi gas memberi kontribusi 42,6% atau sebesar 433,90 MMscfd.

Pada 2017 Pertamina EP mengeluarkan belanja modal sebesar US$ 644 juta dengan biaya operasi sebesar US$ 1,17 miliar. Tahun ini, perseroan memproyeksikan belanja modal US$755 juta dan biaya operasi sekitar US$ 1,27 miliar. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*