PETRONAS: Dulu Belajar Kini Tak Terkejar

35800
PETRONAS: Dulu Belajar Kini Mengejar
Foto : Suryopratomo, Direktur Utama Metro TV sekaligus Ketua Forum Pemred (kiri) dan Sukandar, Wakil Kepala SKK Migas (kedua dari kiri), saat menerima tandamata dari manajemen PETRONAS.

indoPetroNews- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) dan para pemimpin redaksi media nasional di Jakarta yang tergabung dalam Forum Pemimpin Redaksi (Forum Pemred), menyambangi pusat industri berbahan dasar gas terintegrasi milik Petroliam Nasional Berhad (PETRONAS) di Kerteh, Trengganu, Malaysia, pada 24-26 Januari 2018.

PETRONAS: Dulu Belajar Kini MengejarKerteh adalah saksi sejarah, sejak national oil company (NOC) kebanggaan negeri jiran itu memulai bisnis minyak dan gas (migas) nya pada 1974. Lahan yang tadinya, hanya sebesar “lapangan bola”, terus diekspansi dan mengembang hingga seluas 4.000 hektare. Pengembangan ini bersamaan telah diresmikannya Terminal Gas Trengganu (TGAST) dan industri petrokimia pada 2016, yang dikelola Petronas Chemical Group.

“Kita memilih Kerteh di Malaysia karena ingin melihat Petrochemical Plant yang sumber dasarnya adalah gas,” kata Wakil Kepala SKK Migas Sukandar yang ikut  memimpin rombongan. Namun disadari Sukandar, kebanyakan yang diekstrak di sana bukan methana tapi butana dan propana yang sumbernya liquid (cair). Sementara menurut Dia, beberapa lapangan gas di Indonesia kebanyakan methana atau lin gas, yang daya bakarnya rendah. “Tapi ini penting buat pembelajaran kita dan untuk melihat integrasi bisnisnya dari mulai produksi, pengolahan, hingga distribusi,” katanya.

Petronas dulu, tentu bukan Petronas sekarang. Dulu mereka belajar mengelola industri migas dari Indonesia. Bahkan Malaysia menerapkan model kontrak Production Sharing (PSC) dari Indonesia, sebut saja mencontoh Pertamina. Tapi kini, model kerja sama PSC yang dikembangkan Malaysia telah diaplikasikan di lebih dari 20 negara. Malaysia dinilai berhasil mengembangkan bisnis migasnya dan menjadi salah satu pemain penting produsen migas di dunia. Petronas telah tumbuh sebagai perusahaan terbesar di dunia ke-25 versi Fortune Global 500.

Bahkan, bila merujuk pada jenis perusahaan migas yang dinilai mendominasi dari sisi produksi, pengolahan, dan distribusi, Koran Financial Times, pada 2007, telah menyebut Petronas sebagai The New Seven Sister,  sebuah jaringan bisnis migas yang menguasai dunia yang pernah diperkenalkan pengusaha asal Italia, Enrico Mattei. The New Seven Sister terdiri dari: Saudi Aramco (Saudi Arabia), Gazprom (Rusia), CNPC (China), NIOC (Iran), PDVSA (Venezuela), Petrobras (Brazil), dan Petronas (Malaysia).

Pertamina, sebagai National Energy Company (NEC), boleh jadi telah menjadi “guru” yang berhasil bagi Petronas. Karena di dunia pembelajaran, guru yang berhasil biasanya yang menjadikan anak didiknya jauh lebih maju atau lebih pintar dari gurunya. Karena bicara PSC, Pertamina (dulu Permina), telah menerapkan model kontrak ini pertama kali untuk eksplorasi di Blok Offshore North West Java (ONWJ) dengan konsorsium Independence Indonesia-American Oil Company (IIAPCO), pada 16 Agustus 1966.

“Kami dulu belajar dengan Pertamina,” kalimat ini kerap keluar dari petinggi Petronas saat menerima kunjungan rombongan ke fasilitas produksi Petronas Petrochemical dan Trengganu Gas Terminal (TGasT) di Trengganu, Malaysia. Kalimat yang sama juga terucap dari beberapa pegawai Petronas di pusat kontrol produksi Petronas di Kuala Lumpur.

Walau Pertamina menjadi guru Petronas, tetapi seiring perjalanan waktu, perusahaan migas nasional Malaysia ini menyalip kemajuan Pertamina. Sekarang perusahaan negeri Jiran tersebut menjelma menjadi salah satu perusahaan  raksasa migas di  tingkat global. Tingkat produksinya mencapai  1,2 juta barel per hari (bph). Lebih besar dari produksi minyak Indonesia pada  2017 sebesar 800 ribu bph.

President PC Muriah Ltd dan PC Ketapang Ltd., Mohamad Zaini Md Noor mengatakan, dari sisi tenaga kerja, lebih dari 40 negara telah terlibat dalam pengembangan industri migas Petronas di dunia. Bahkan Petronas, menurut Zaini, selalu melibatkan masyarakat lokal dalam pengembangan usahanya. Di Indonesia, tutur Dia, dari 400 pekerja migas yang terlibat dalam pengembangan Blok Muriah di Jawa Tengah dan Ketapang di Jawa Timur, sekitar 15 pekerja saja yang berasal dari Malaysia.

Pengolahan petrokimia dan gas di Kerteh menjelma menjadi pusat pengolahan terintegrasi tentu tidak muncul seketika. Fasilitas ini dimulai sejak tahun 1983 dan terus berkembang hingga pada 2016 lalu menjadi fasilitas yang terlengkap. Kerteh mengolah minyak bumi sebanyak 49 ribu barel per hari dari minyak jenis light sweet yang berasal dari dua rig di lepas pantai Malaysia di wilayah Trengganu.

Dua rig mengirimkan minyak mentah ke fasilitas ini, untuk diolah menjadi BBM dengan berbagai jenis oktan serta kimia dasar yang kemudian digunakan untuk produk rumah tangga, elektronik dan otomotif serta barang kebutuhan sehari-hari. “Untuk BBM kebutuhan dalam negeri semua diambil dari sini. Jadi kami tidak impor dari negara manapun,” ujar Fadhil Afiq, salah satu Operation Engineer Petronas.

Fadhil juga menyebut Petronas belajar banyak dari Pertamina. Selain itu, teknologi untuk pengolahan fasilitas ini juga mengadopsi dari Jepang dan Korea. Bukan hal yang mustahil jika Pertamina bisa menjadi perusahaan migas besar dunia, sejajar atau bahkan lebih dari Petronas.

Sukandar mengatakan, Indonesia ingin mempelajari lebih dekat fasilitas terintegrasi ini. “Keinginan Pak Amien (Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi) agar Indonesia juga bisa memiliki pabrik petrokimia,” kata Sukandar kepada para pemimpin media. Sukandar mengatakan, Pertamina bisa membangun fasilitas yang sama. “Dan diharapkan, bisa bekerjasama dengan Petronas lewat joint venture,” ujarnya.

Sukandar dalam paparannya di depan Mohamad Zaini Md Noor pun berpromosi. Dia mengajak Malaysia untuk dapat berinvestasi lapangan gas di wilayah Papua.  Zaini mengatakan, minatnya terhadap lapangan migas di Indonesia masih besar. “Kalau ada kami ingin lapangan yang di wilayah Jawa atau Sumatera, karena wilayah Papua masih tergolong remote dan berisiko besar,” katanya.

Sukandar juga berharap agar Petronas dapat meningkatkan investasi di Indonesia, tidak hanya di hulu (upstream) tapi juga di hilir (downstream) terutama pada industri petrokimia. “Kami sangat welcome apalagi Malaysia adalah negara serumpun,” ujarnya. (Kusairi/Sofyan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*