Menteri Jonan Teken Ekspor LNG ke Pakistan

23100
Petronas Kirim Kargo LNG Pertama ke S-Oil Korsel
Foto : linkedin.com

indoPetroNews- Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) telah bersepakat untuk menjual gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) ke Negara kawasan Asia Selatan, salah satunya Pakistan. Kepastian kerja sama sektor energi dengan Pakistan ditandai dengan penandatangan Inter Government Agreement (IGA) antara Menteri ESDM Ignasius Jonan dengan Menteri Negara Divisi Perminyakan Pakistan Jam Kamal Khan, yang disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo di sela kunjungan kerjanya ke Islamabad, Pakistan, 27 Januari 2018.

Jonan mengatakan perjanjian antar pemerintah dimaksud akan menjadi payung kerja sama Business to Business antara Indonesia dan Pakistan. Dalam kesepakatan tersebut, Pakistan akan menerima pasokan LNG sebesar sekitar 1 sampai 1,5 juta ton per tahun (Million Ton Per Annum/MTPA). Jalinan kerja sama ini akan berlangsung selama 10 tahun dan dapat diperpanjang selama 5 tahun. “Ekspor LNG ke Pakistan sebesar 1,5 MTPA selama 10 tahun, dapat diperpanjang lima tahun berikutnya,” ujar Jonan.

Nantinya, proses ekspor LNG dari Indonesia akan digarap oleh PT Pertamina (Persero) dan Pakistan LNG Limited (PLL). PLL menyampaikan potensi kerjasama lain berupa kesempatan Pertamina untuk melakukan pengadaan FSRU yang ke-3 di Pakistan, dimana Pertamina juga berkesempatan untuk menjadi operator FSRU tersebut. Pertamina akan mempelajari kemungkinan pengadaan FSRU untuk Pakistan.

Sebelumnya, Wakil Menteri (Wamen) ESDM, Arcandra Tahar mengatakan, rencana ekspor gas alam cair LNG itu masih dalam tahap penjajakan secara intensif.

Pertamina telah mendapatkan komitmen untuk mengekspor LNG sebanyak 1 juta—1,5 juta ton per tahun untuk satu negara.

“Nilai transaksi perdagangan itu ditaksir senilai US$6 miliar per negara,” ujarnya.

Arcandra menyebutkan, pihaknya berharap agar kesepakatan sudah bisa menemui lampu hijau ketika Presiden Republik Indonesia berkunjung kedua negara itu dalam waktu dekat.

“Namun, tampaknya belum sampai tahapan tanda tangan kontrak. Mungkin bisa membahas lanjutan MoU (memorandum of understanding/nota kesepahaman) atau kalau bisa malah sudah SPA (sales purchase agreement/kesepakatan pembelian) gas,” ujarnya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*