Menteri ESDM Sebut Proyek Lapangan Jangkrik Efisien

12100
Menteri Jonan Anggap Cost Recovery Sangat Ketinggalan Zaman
Foto : Istimewa

Salah satu penerapan efisensi harga di sektor energi adalah pengerjaan proyek Lapangan Jangkrik. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan proses penyelesaian proyek tersebut 6 bulan lebih cepat dari target yang ditetapkan. “Dan memangkas 10% dari total investasi sebesar 4,3 miliar dolar AS,” kata Jonan dalam sambutannya pada acara The Journal of Contemporary Accounting and Economics (JCAE) 2018, Kamis (11/1/2018) di Denpasar, Bali.

Disamping itu, Jonan juga terus menciptakan pemerintahan yang bersih dengan menerapkan inovasi kebijakan teknologi. “Ini misi besar. Saya harap anda mendukung inisiatif penerapan teknologi,” harapnya.

Mengenai efisiensi, Jonan menjelaskan hal tersebut menjadi kunci utama perekonomian global. “Ekonomi global ke depan bukan hanya mengenai ekspansi pasar, bukan pula mengenai penciptaan teknologi baru, tapi soal efisiensi,” jelas Jonan.

Selain efisiensi, Jonan juga menerapkan pemerataan. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya rasio elektrifikasi pada tahun 2017 yang mencapai 94,91%. “Ini adalah tanggung jawab saya untuk memperkecil Rasio Gini nasional melalui percepatan elektrifikasi, meningkatkan rasio elektrifikasi dan mendorong keterjangkauan harga,” tegasnya.

Sebagai informasi, Menteri Jonan meresmikan fasilitas produksi gas Lapangan Jangkrik pada (31/10/2017).

Fasilitas pemrosesan migas terapung (floating processing unit/FPU) Lapangan Jangkrik, Blok Muara Bakau dioperatori oleh Eni Muara Bakau BV.

Menteri Jonan meresmikan FPU Jangkrik di area Fasilitas Penerimaan Darat (onshore receiving facility/ORF) milik Eni Muara Bakau, di Kelurahan Handil Baru, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.  Proyek lapangan gas yang menelan investasi US$4,3 miliar.

Berikut sekilas tentang Lapangan Jangkrik.

1. Dari rencana waktu pembangunan Lapangan Jangkrik selama 4 tahun, proyek selesai hanya dalam waktu 3,5 tahun. Ini menghemat biaya hingga US$400 juta.

2. Penyaluran produksi dari lapangan ini telah dapat meningkatkan utilitas dari fasilitas LNG Bontang. Hal ini meningkatkan penyediaan energi yang lebih efektif dan efisien.

3. Produksi gas dari Jangkrik akan memasok LNG ke pasar domestik dan juga pasar ekspor sehingga memberikan kontribusi yang  signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan energi Indonesia.

4. Proyek ini mencakup Lapangan Jangkrik dan Jangkrik North East yang terletak di Blok Muara Bakau, Cekungan Kutei, di perairan laut dalam Selat Makassar, sekitar 70 km dari garis pantai Kalimantan Timur.

5. Produksi itu dihasilkan melalui sepuluh sumur bawah laut yang terhubung dengan FPU Jangkrik  dan telah mencapai 600 juta kaki kubik per hari (MMscfd) atau setara dengan 100.000 barel setara minyak per hari (boed). Menurut Kepala SKK Migas Amin Sunaryadi, produksi harian tersebut lebih tinggi dsri target awal 450 MMscfd.

6. Proyek ini sangat signifikan untuk menambah pasokan gas dalam negeri dan memenuhi target lifting gas bumi pada 2017 sebesar 1,15 juta barrel setara minyak per hari (boed), dan 2018 sebesar 1,2 juta boed. Pemerintah menargetkan peningkatan penggunaan gas di dalam negeri. Pada 2017 alokasi gas di dalam negeri sebesar 62%.

7. Proyek pengembangan Lapangan Gas Jangkrik juga telah menciptakan dampak berantai (multiplier effect) yang cukup besar seperti pabrikasi fasilitas pengolahan yang telah dikerjakan di Karimun, dan penyerapan tenaga kerja. Terdapat 1.000 lebih tenaga kerja selama fase proyek dengan 94,5 % di antaranya adalah tenaga kerja Indonesia.

8. ENI resmi menjadi operator Blok Muara Bakau pada 2002. Penemuan cadangan gas pertama terjadi pada tahun 2009 di Sumur Jangkrik-1. Berjarak sekitar 20 km dari Lapangan Jangkrik pada blok yang sama terdapat sumur Jangkrik North East yang ditemukan pada 2011 dan kemudian diintegrasikan dalam satu rencana pengembangan lapangan (PoD).

9. Proyek Jangkrik merupakan pengembangan cekungan Kutei dengan kedalaman air mencapai 400 meter. Selain ENI Muara Bakau yang menguasai 55%, juga bekerja sama dengan ENGIE (33%) dan PT Saka Energi Muara Bakau (11,7%).

10. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara mendapatkan porsi bagi hasil gas sebesar 10%. Namun, keduanya masih belum sepakat porsi pembagian dari jatah tersebut. Kaltim menginginkan 65%, sedangkan Kutai minta pembagian sama rata. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*