Kepala SKK Migas Sebut Penurunan Produksi Mahakam Wajar

30200
Inilah Blok Migas yang Onstream 2018
Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi

indoPetroNews- PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), anak usaha PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) yang mengelola Blok Mahakam ditargetkan dapat berproduksi pada kisaran 1.100 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) gas dan 48.000 barel per hari (BOPD) minyak.

Padahal pada 2017 produksi Blok Mahakam mencapai 1.360 MMSCFD gas dan 52.000 BOPD minyak. Bahkan, pada 2016 lebih tinggi yakni 1.640 MMSCFD untuk gas dan 53.000 BOPD minyak.

Menurut Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi, menilai penurunan produksi tersebut suatu hal yang normal dari sebuah blok migas.

“Artinya dari tahun ke tahun produksi pasti turun, itu natural. Untuk mengurangi turun dibornya lebih banyak, jadi faktor penurunan lebih karena natural,” katanya, Selasa (2/1/2018) di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali.

Walaupun demikian, kata Amien, bisa saja penurunan produksi secara alamiah itu bisa diantisipasi. Salah satunya saat masa transisi 2 tahun Pertamina sudah mulai berinvestasi untuk melakukan pengeboran sumur baru.

Pertamina awalnya berencana mengebor 19 sumur baru. Namun ternyata yang direalisasikan hanya 15 sumur baru. Dengan begitu produksinya lebih turun. “Karena persiapannya kurang waktu akhirnya tinggal 15, ngebor 15 sumur dengan 19 sumur hasilnya berbeda, produksi terbantu dengan yang ngebor 15 ini. Tapi seandainya dulu yang dibor bisa 19 produksinya bisa lebih tinggi, ngebor-ngebor ini untuk ngurangi natural decline ini,” katanya.

Seperti diketahui, sejak 1 Januari 2018, pengelolaan Blok Mahakam di Kalimantan Timur secara resmi berpindah ke PT Pertamina (Persero). Sebelumnya blok tersebut dikelola oleh Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation.

Sebagai catatan, Blok Mahakam terletak di lepas pantai Kalimantan Timur,  merupakan lahan minyak dan gas bumi (migas) terbesar di Indonesia, dengan cadangan awal 1,68 miliar barel minyak dan 21,2 triliun kubik kaki (tcf). Setelah 50 tahun dieksploitasi oleh Total E&P Indonesie, cadangan tersisa masih sebesar 57 juta barel minyak, 45 juta barel kondensat, dan 4,9 tcf gas. Dengan sisa cadangan migas sebesar itu, tidak mengherankan kalau Total E&P Indonesie berusaha keras dengan berbagai cara untuk kembali menguasai Blok Mahakam melalui perpanjangan kontrak.

Sejak 2008, Pertamina telah berulang-kali mengajukan usulan ke Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengelola Blok Mahakam secara mandiri. Pertamina juga menyatakan kesanggupannya mengalokasi dana investasi yang dibutuhkan  untuk mengoptimalkan produksi, jika kelak ditunjuk sebagai operator tunggal Blok Mahakam. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*