Oman Tunda VAT Akibat Anjloknya Harga Minyak

20500
Oman Tunda VAT Akibat Anjloknya Harga Minyak Pajak pertambahan nilai atau VAT adalah salah satu strategi yang dilakukan 6 (enam) negara Arab Teluk yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman - untuk mengatasi defisit akibat anjloknya harga minyak mentah di pasar dunia sejak medio 2014. Kendati demikian, salah satu negara dari 6 negara Arab Teluk, yaitu Oman malah menunda pemberlakuan VAT. Apa alasan penundaannya? Menurut Kementerian Keuangan Oman, penundaan pemberlakuan VAT sampai 2019. Walaupun demikian, menurut sejumlah sumber di Kementerian Keuangan, poduk-produk tertentu seperti rokok, minuman berenergi, dan minuman ringan, bakal dikenai pajak mulai pertengahan tahun depan. Demikian laporan dikutip the Times of Oman, pada Kamis (28/12/2017). Penundaan penerapan VAT ini bertujuan untuk memberi kelonggaran waktu bagi para pelaku usaha di Oman untuk melakukan persiapan. Seperti diketahui, negara-negara Arab Teluk yang bergabung dalam GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) - beranggotakan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman - semula menyetujui untuk menerapkan VAT sebesar 5% mulai Januari 2018. Namun baru Saudi dan UEA menyatakan kesiapannya memberlakukan VAT pada awal tahun depan. Dalam laporannya, Price Watercooper Timur Tengah menyebutkan pinjaman luar negeri Oman bakal meningkat hingga 133% untuk membiayai defisit, tahun ini diperkirakan tiga miliar riyal. (Sofyan)

indoPetroNews- Pajak pertambahan nilai atau VAT adalah salah satu strategi yang dilakukan 6 (enam) negara Arab Teluk yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman – untuk mengatasi defisit akibat anjloknya harga minyak mentah di pasar dunia sejak medio 2014.

Kendati demikian, salah satu negara dari 6 negara Arab Teluk, yaitu Oman malah menunda pemberlakuan Value Added Tax (VAT). Apa alasan penundaannya?

Menurut Kementerian Keuangan Oman, penundaan pemberlakuan VAT  sampai 2019. Walaupun demikian, menurut sejumlah sumber di Kementerian Keuangan, poduk-produk tertentu seperti rokok, minuman berenergi, dan minuman ringan, bakal dikenai pajak mulai pertengahan tahun depan. Demikian laporan dikutip the Times of Oman, pada Kamis (28/12/2017).

Penundaan penerapan VAT ini bertujuan untuk memberi kelonggaran waktu bagi para pelaku usaha di Oman untuk melakukan persiapan.

Seperti diketahui, negara-negara Arab Teluk yang bergabung dalam GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) – beranggotakan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman – semula menyetujui untuk menerapkan VAT sebesar lima persen mulai Januari 2018. Namun baru Saudi dan UEA menyatakan kesiapannya memberlakukan VAT pada awal tahun depan.

Dalam laporannya, Price Watercooper Timur Tengah menyebutkan pinjaman luar negeri Oman bakal meningkat hingga 133% untuk membiayai defisit, tahun ini diperkirakan tiga miliar riyal. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*