Gross Split Tidak Buat Investor Takut

22900
Mustahil Pemerintah Tidak Hambat Investasi
Foto : istimewa

indoPetroNews- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) tidak khawatir dengan susutnya jumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) industri hulu minyak dan gas bumi (Migas). Apa alasannya?

Menurut Amien Sunaryadi, Kepala SKK Migas, pengalaman pada 2015 ada sekitar 30 Kontraktor KKS yang hilang karena ternyata banyak Kontraktor KKS yang tidak memenuhi persyaratan kontraktor migas di Indonesia.

Misalnya saja untuk data seismik. Sehingga SKK Migas banyak mencoret Kontraktor KKS yang “bandel” tersebut. “Jumlah Kontraktor KKS yang sedikit asalkan investasinya jelas tidak akan jadi masalah,” kata Amien, Jumat (8/12/2017) di Jakarta. Oleh sebab itu, menurut keyakinannya
penerapan aturan kontrak bagi hasil Gross Split tidak lantas membuat investor  migas takut untuk berinvestasi di Indonesia.

Amien mengakui jumlah investor tidak sampai 10 tetapi memiliki bujet yang jelas. Sebelumnya, Amien memproyeksi akan ada 10 kontrak baru yang akan menggunakan skema gross split.

Hingga 2025, Amien memproyeksi akan ada 33 kontrak cost recovery yang berubah menjadi gross split. Sisanya sebanyak 53 kontrak produksi (Production Sharing Contract/PSC) akan tetap menggunakan skema cost recovery.

Dia menyatakan, lelang Gross Split terbaru tidak mengalami penundaan dan sudah dimulai. Hanya saja, investor melakukan penundaan untuk memasukkan dokumen lelang karena para investor potensial tersebut masih ingin melihat bagaimana aturan pajak Gross Split berlangsung, sehingga mereka bisa melakukan perhitungan.

Jika hitungan pajak dinilai menarik, maka investor akan lanjut untuk meneken kontrak Gross Split. “Mudah-mudahan aturan pajak Gross Split ini segera dikeluarkan pemerintah sehingga 15 blok migas yang ditawarkan segera terjual. Tahun ini jika hanya 5 yang terjual itu sudah bagus,” ujar Amien. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*