Pertamina Operasi Pasar Atasi Langkanya LPG Melon

8300
Wamen Arcandra Akui Ada Kelangkaan LPG Melon
foto : pojokpitu.com

indoPetroNews- Dalam pekan ini terjadi kelangkaan LPG melon tiga kg di Jabodetabek dan beberapa daerah di Jawa Barat. Apa sikap Pertamina?

Untuk meminimalisir  kelangkaan LPG 3 kilogram (kg), PT Pertamina (Persero) tengah melakukan operasi pasar di beberapa lokasi, salah satunya di wilayah Jawa Bagian Barat.

Guna menyukseskan operasi pasar, pihak Pertamina pun menghimbau agar masyarakat yang masuk dalam kalangan mampu tidak menggunakan LPG 3 kg. Sebab LPG 3 kg adalah produk gas bersubsidi yang kuotanya dibatasi oleh pemerintah.

“Sesuai tulisan yang ada pada tabung, LPG 3 kg sesungguhnya hanya untuk masyarakat tidak mampu. Makanya kami berharap masyarakat yang mampu, apalagi bisnis yang sudah maju, agar tidak menggunakan LPG 3 kg namun beralih ke LPG non subsidi,” kata Unit Manager Communication & Relations Pertamina Jawa Bagian Barat Dian Hapsari Firasati dalam keterangan tertulisnya pada sejumlah media, Kamis (7/12/2017).

Dia juga mengatakan salah satu penyebab langkanya LPG 3 kg lantaran adanya peningkatan permintaan yang disebabkan adanya libur panjang pada akhir pekan kemarin, serta menyambut hari raya Natal dan Tahun Baru.
“Itu menyebabkan terjadinya lonjakan permintaan,” tuturnya.

Pihaknya sejak Senin kemarin mengaku telah melakukan operasi pasar sejak di sejumlah wilayah seperti Kota dan Kab Bogor, Depok, Priangan Timur, Kota dan Kab Sukabumi. Selain itu penambahan pasokan juga dilakukan di beberapa daerah seperti di DKI Jakarta, Bandung, Cimahi, Sumedang dan Tangerang.

“Pantauan di sejumlah lokasi hingga ini sudah terpantau lebih kondusif. Seperti di wilayah Tambora yang sebelumnya ramai diberitakan sulit mendapat LPG 3 kg, saat ini sudah pulih kembali. Hal ini terlihat di Pangkalan di Duri Utara I, Tambora dimana hanya beberapa masyarakat yang menukarkan tabungnya,” katanya.

Sementara itu, Ali Ahmudi, pengamat energi dari Center for Energy and Food Security Studies (CEFSS), menjelaskan subsidi LPG 3 kg yang diberikan kepada orang akan jauh lebih efektif.

Selain itu jangan sampai masayarakat diberikan pilihan dengan disparitas harga yang sangat jauh. Ali mencontohkan LPG, selain 3 kg, ada kemasan LPG 5,5 kg dan 12 kg, namun disparitas harganya cukup jauh.

“Selama ada pilihan dengan harga yang jauh lebih murah, masyarakat akan lebih memilih dengan harga yang lebih murah, siapapun itu,” katanya.

Ali menyarankan agar subsidi tepat sasaran  dan efektif, sebaiknya diberikan kepada orang lebih efektif ketimbang subsidi barang.

Setelah itu dilakukan melalui subsidi tertutup kemudian pemerintah juga harus memiliki alternatif selain elpiji agar masyarakat  memiliki pilihan lain.

“Idealnya subsidi tidak naik atau menggelembung, justru seharusnya yang terjadi adalah penurunan angka penerima subsidi. Kalau subsidi barang terus dilakukan, akan menjadi candu. Sebaiknya untuk jangka panjang, subsidi barang dihilangkan,” ujarnya.

Menurut Ali, tidak masalah apabila subsidi tidak bertumbuh. Namun, bila elpiji bersifat konsumtif, jumlah terus bertambah dan lama-kelamaan negara tidak bisa membayar.

Sementara LPG tidak mudah digantikan oleh LNG ataupun CNG, meski sama-sama berasal dari sumber minyak dan gas bumi. Pasalnya, masing-masing memiliki karakter berbeda.

“Menggantikan LPG dengan CNG atau LNG tidak gampang. Butuh teknologi dan biaya yang lebih,” terangnya.

Karena itu, kalaupun ada opsi alternatif selain LPG, harus dicarikan sumber energi yang lebih mudah misalnya melalui jaringan gas pipa ataupun biomassa. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*