Sekali Lagi, EMP Mangkir dari Kesepakatan dan Upah Pekerja

31500
Cadangan Minyak Irak Diprediksi Lebih Besar dari Saudi
Foto : boombastis.com

indoPetroNews- EMP Malacca Strait SA (EMP MSSA) kembali melakukan pelanggaran terhadap hak pekerjanya. Apa bentuk pelanggarannya?

“Memberikan upah tidak tepat waktu dan mangkir dari kesepakatan hubungan industrial,” kata Ketua Umum Serikat Pekerja Kondur Petroleum (SPKP) Moh Taufik Muttaqin dalam keterangannya pada wartawan, Selasa (5/12/2017) di Jakarta.
Hingga Senin siang (4/12/2017) perusahaan belum juga membayar upah pekerja bulan November 2017 dan menyelesaikan hak normatif tertunda lainnya. “Ini tentunya memberikan tekanan ekonomi yang berat bagi pekerjanya,” tandas Taufik.

Selain itu, lanjut Taufik, EMP Malacca Strait SA  (Kondur Petroleum SA)   juga mangkir atas kesepakatan hubungan industrial terhadap pekerjanya, yaitu belum diberlakukannya Perjanjian Kerja Bersama (PKB) 2017 – 2019 antara perusahaan dengan pekerjanya.

Perjanjian Kerja Bersama masa berlaku 2017 – 2019 yang sudah ditandatangani oleh pimpinan perusahaan EMP MSSA dan Ketua Umum Serikat Pekerja Kondur Petroleum (SPKP) untuk diberlakukan pada 1 Oktober 2017 sampai detik ini belum juga dilaksanakan. Bahkan pengesahan pada Kementerian Ketenagakerjaanpun belum dilakukan oleh perusahaan.

“Semestinya, Perjanjian Bersama untuk pemberlakukan PKB 2017 – 2019 pada 1 Oktober 2017 yang sudah di-Akta-kan bisa dilakukan dengan penuh kesadaran akan diperlukannya aturan pasti dalam melakukan hubungan industrial dengan baik dan harmonis,” tandas Taufik.

PKB yang dipergunakan saat ini, imbuhnya, adalah PKB 2012 – 2014, dimana sudah tiga tahun tidak ada perubahan apapun. “SPKP berperan aktif untuk memperbaharui PKB  dengan mengajukan perselisihan pada  Suku Disnaker dan Transmigrasi Jakarta Selatan dan berkoordinasi dengan SKK Migas,” papar Taufik.

Di juga mengatakan bahwa tingkat kepatuhan perusahaan pada peraturan perundangan ketenagakerjaan yang sangat rendah cukup menyulitkan posisi pekerja dalam melakukan hak dan kewajiban pekerja migas Indonesia. “Pemerintah harus hadir dalam permasalahan hubungan industrial EMP MSSA dengan para pekerjanya. Kepala SKK Migas, Menteri ESDM, Menteri Tenaga Kerja beserta jajarannya sudah saatnya hadir dalam menyelesaikan permasalahan yang ada,” harapnya.

Taufik menambahkan, indikator tingkat kepatuhan perusahaan pada peraturan perundangan ketenagakerjaan  rendah adalah; Pertama, tidak dilakukannya pembayaran hak-hak normatif pekerja tepat pada waktunya. Kedua,  tidak diindahkannya surat penetapan dan anjuran ketenagakerjaan. Ketiga, melakukan rencana PHK dan tindak lanjutnya dengan melanggar aturan perundangan. Keempat, melanggar kesepakatan.

Sementara itu, Heru Widodo Ketua I SPKP, menegaskan, demi tegaknya hukum dan peraturan yang berlaku, pihaknya didukung oleh Federasi Serikat Pekerja Kawasan Barat Indonesia (FSPKBI) dan Konfederasi Serikat Pekerja Minyak dan Gas Bumi Indonesai (KSPMI), akan melakukan langkah hukum atas tindakan perusahaan EMP MSSA terhadap pekerjanya, termasuk dengan menindak lanjuti laporan kepolisian apabila diperlukan.

“Tindakan merugikan pekerja dengan tidak menyetorkan iuran DPLK Tugu Mandiri setiap bulan, dimana sebagian iuran merupakan kewajiban pekerja yang telah dipotong dari upah bulanan pekerja, jelas jelas tindakan yang melawan hukum,” tandas Heru.

Heru juga mengatakan, “Bapak Presiden RI beserta jajarannya, bersama ini kami pekerja migas nasional Indonesia pada perusahaan EMP MSSA, meminta bantuan dan perlindungannya untuk hak-hak kami yang timbul atas kewajiban yang sudah kami lakukan yang tidak kunjung diberikan oleh perusahaan sebagaimana peraturan perundangan yang berlaku”.

EMP MSSA sebagai bisnis unit dari Energi Mega Persada (EMP) dengan visi menjadi perusahaan publik yang memimpin dalam sektor minyak dan gas bumi Indonesia, ungkap Heru, wajib taat terhadap aturan perundangan yang ada, demi terciptanya hubungan industrial yang harmonis dalam mendukung Ketahanan Migas Nasional. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*