BSE, Berisik Tapi Bawa Berkah bagi Warga dan Lingkungan

15300
BSE, Berisik Tapi Bawa Berkah bagi Warga dan Lingkungan

indoPetroNews- Akeh sampah ning umah? Ayo nabung ning Bank Sampah Eretan
Olih bersihe, olih duit tabungane (Bunyi tulisan spanduk yang terpampang di atas pintu masuk gudang BSE)

Awan hitam pekat masih menggantung di langit Desa Eretan Kulon Kandanghaur Indramayu Jawa Barat. Limpahan air hujan sedari Subuh belum ada tanda-tanda reda. Makin lama semakin deras mengguyur tanah Eretan. Sementara arah jarum jam menunjukkan angka 13.30 WIB. Selepas mengisi perut dengan nasi dan lauk ikan gombyang (sop kepala ikan khas Indramayu), bandeng goreng, tempe goreng, lalapan timun, sayur, terong, sambel dan kerupuk, acara peliputan ke lokasi-lokasi pengembangan masyarakat pun dilanjutkan dengan briefing serta perkenalan dari panitia. Rombongan awak media, terdiri dari 6 wartawan media lokal dan 1 wartawan dari Jakarta, disepakati untuk menuju lokasi Bank Sampah Eretan (BSE), UKM Berkah Laut dan Aquaponik Ras-Pro, di areal SMK Hasanudin. Namun fokus tulisan ini mengulas kiprah BSE.

Posisi lokasi BSE terletak kurang lebih 500 – 600 meter ke arah timur dari SMK Hasanudin Kandanghaur, titik awal pertemuan dan berkumpulnya para awak media dan panitia. Tepatnya, BSE berada di Jl KUD Mina Bahari Desa Eretan Kulon Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu Jawa Barat 45254.

Sesampainya di kantor BSE, kami disambut hangat oleh Ilham, Manager BSE dan seorang staf serta petugas gudang sampah. Setelah mendengarkan penjelasan singkat soal profil BSE, rombongan awak media dipersilakan untuk meninjau lokasi pemrosesan sekaligus gudang sampah, yang tidak jauh berada dibelakang ruang utama. Di ruangan berukuran 5 meter x 4,5 meter tersebut berdiri tegak empat rak sampah seukuran 3 meter x 1,5 meter, terisi penuh sampah yang telah dipisahkan antara sampah organik dan sampah non organik. Ada pula tumpukan-tumpukan botol dan gelas plastik bekas air mineral/minuman yang telah dipress dengan mesin pempressan. Selain botol dan gelas plastik bekas, ada juga sampah lainnya, seperti ember bekas, besi paku, kuningan, kaleng alumunium, paralon, kompor, kardus, kertas, karton, ember bekas, galon bekas, kaleng, botol dan berbagai jenis sampah lainnya.

Walaupun di luar gudang air hujan terus mengguyur dan angin pesisir berembus kencang tetapi seorang karyawan nampak tetap giat memasukkan puluhan botol plastik bekas air mineral/minuman ke dalam mesin pempressan. Suara mesin yang meraung-raung dan kadang berderik-derik membuat suasana kerja semakin bersemangat. Sesekali karyawan itu menyeka keringat yang mulai menyembul dari wajahnya. Setelah tumpukan botol selesai dipress, lalu dia pindahkan ke sisi belakang. Dijejer dengan tumpukan botol lain agar rapi dan mudah diangkut. Begitu seterusnya hingga kemudian tumpukan sampah-sampah tersebut siap untuk dikirim ke
PT Amartha Mulia Persada (AMP) di Jakarta.

“Kita ada MoU selama 5 tahun dengan PT AMP. Sudah berjalan sebulan lebih,” kata Ilham Mahfudin, Manager BSE, Kamis (30/11/2017) di Desa Eretan Kulon Kandanghaur Indramayu, Jawa Barat. Di BSE terdapat 42 jenis sampah organik dan non organik, tetapi yang  dikerjasamakan baru sampah botol dan gelas plastik bekas minuman air mineral/minuman. Setiap bulan tidak kurang dari 5 ton botol dan gelas plastik bekas air mineral/minuman terkumpul yang dikirim ke PT AMP.

Menurut Ilham, BSE yang berdiri pada 2014, memiliki tidak kurang dari 370 nasabah. “Itu belum termasuk nasabah dari Desa Eretan Wetan dan Losarang. Total nasabah 590 nasabah,” tutur pria bertubuh gempal ini. Bahkan, dalam waktu dekat ada 10 desa yang akan menjadi binaan BSE.

Ilham mengungkapkan, selain menjalinkerjasama dengan PT AMP, BSE juga memproduksi pupuk cair dari sampah organik. Setiap bulan dapat menghasilkan 1500 liter pupuk cair. Selain digunakan untuk kalangan internal, pupuk cair tersebut telah dipasarkan ke Bandung dan Sumedang. Bandrol harganya Rp 25000 per liter.

Tidak hanya pupuk cair, BSE yang mempekerjakan 7 orang karyawan dengan upah 1,4 juta per bulan, juga memproduksi biogas. “Biogas dimanfaatkan untuk dapur umum masyarakat. Bagi yang memerlukan untuk masak bisa datang langsung ke bank sampah,” kata Adi Supriyadi, penggagas BSE, sembari mengimbuhkan BSE juga mengelola press plastik dan cacah plastik (diperkirakan beroperasi tahun 2018).

Adi juga mengisahkan latarbelakang  pendirian BSE, yang mulanya bernama Bank Sampah Bayu Samudra. Dia menyatakan, “Desa Eretan Kulon, awalnya dikenal sebagai daerah pesisir kotor, kumuh dan banyak sampah menumpuk. Kalau tidak diatasi akan timbulkan berbagai persoalan. Terutama penyakit dan kesehatan”. Melihat kenyataan sosial tersebut, nurani Adi terusik. Dia pun tergerak dan berinisiatif untuk mendirikan bank sampah. Masyarakat Eretan semula hanya diminta untuk menaruh sampah di BSE. Lalu dibukukan dalam buku tabungan.

Seiring makin banyaknya jumlah nasabah, BSE pun mulai menata manajemennya. Ia dan karyawannya mengklasifikasikan jenis-jenis tabungan para nasabah. Ada tabungan pendidikan. Ada tabungan lebaran. Ada pula tabungan baratan. Masyarakat diberi kebebasan untuk memilih jenis tabungan yang dikehendaki dan sesuai kemampuannya.

Disamping itu, diterapkan strategi agar BSE terus berkembang dan berkelanjutan. Kendati telah dikenal warga, tetapi pihak manajemen BSE terus mensosialisasikan programnya ke masyarakat. Mereka tidak lelah mengajak dan menggerakkan masyarakat agar peduli lingkungan dan rajin menabung sampah.

Proses tata kelola sampah di BSE sederhana. Dimulai dari penerimaan, pengumpulan dan penimbangan sampah. Setelah itu, sampah-sampah dimasukkan ke gudang dan dipilah-pilah antara sampah organik dan sampah non organik. Harga sampah per kilogram (kg) juga bervariasi sesuai jenis, ragam dan bobotnya. Sampah botol plastik air mineral dipatok Rp 2400 per kg. Sampah gelas plastik air mineral dibandrol Rp 2500 per kg. Plastik kresek warna per kg dipatok harga Rp 400. Kertas, buku, koran dan HVS dibandrol Rp 500 per kg. Untuk kertas semen per kg Rp 300. Kertas karton dipatok harga Rp 300, dan sampah lain sebagainya.

Volume sampah yang terkumpul hingga saat ini adalah; sampah organik volumenya mencapai 7850 kg per bulan. Sedang volume sampah non organik mencapai 8520 kg per bulan. Diakui Adi, kehadiran BSE juga tidak lepas dari kontribusi Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), salah satu anak usaha PT Pertamina (Persero). “PHE ONWJ memberikan pendampingan dan support,” tandasnya.

Terkait kontribusi tersebut, Agus Sudaryanto, Kepala Community Development (Comdev) PHE ONWJ menyampaikan perusahaan ingin turut serta memajukan pedesaan. “Sarananya lewat BSE,” kata Agus. Selanjutnya, menjadikan desa tersebut sebagai desa percontohan bagi pengembangan desa-desa lainnya.
Program-program CSR ini, imbuh Agus, diharapkan menjadi solusi persoalan dan berkah bagi masyarakat pesisir. “Pak Adi sebagai pencetus BSE sekarang pun sudah jadi trainer bank sampah ke mana-mana. Bahkan ke luar kabupaten Indramayu,” terang Agus.

Beroperasinya BSE ditengah-tengah perkampungan pesisir berpenduduk sebanyak 9.856 jiwa  memiliki efek positif ke berbagai kalangan. Selain pada penggagasnya, Adi Supriyadi, juga membawa berkah peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Adi diganjar penghargaan Pertamina Award, pada  2016 di Jakarta. Dia juga memeroleh Sindo Award, pada 2015 di Jakarta.

Sementara masyarakat sekitar BSE juga mendulang berkah ekonomi. Untuk menyebut beberapa penduduk yang kelimpahan berkah BSE, diantaranya Trisna dan Yani. Keduanya adalah suami-istri yang menjadi nasabah BSE. Setiap minggu, mereka bisa mendapat Rp
20.0000 – 25.000 dari hasil menabung sampah.

Trisna (29) dan Yani (26) mengungkapkan, walaupun suara berisik kerap terdengar dari mesin ngepress botol dan gelas plastik minuman air mineral, tetapi keberadaan BSE tetap bermanfaat dan menguntungkan dirinya. “Saya setiap menjelang Lebaran bisa kantongi Rp 1.000.000,” kata Trisna, yang rumahnya hanya berjarak 3 meter dari kantor BSE.

Nasabah lainnya adalah Pak Rozikin (59). Pria paruh baya yang rumahnya bersebelahan dengan Trisna dan Yani, menyatakan setiap tahun dirinya bisa mendapatkan Rp 600.000. “Kalau sebulan Rp 100.000. Saya tidak rajin nabung,” ungkap Rozikin, mantan nelayan yang kini berjualan kelapa muda. Rumah Rozikin juga berjarak sekitar 3 meter dari kantor BSE. Dia pun mengaku tidak terganggu suara bising mesin press plastik di BSE. “Berisik sudah biasa,” cetusnya, sembari tertawa lebar hingga nampak giginya yang sebagian sudah tidak utuh lagi.

Sebelum BSE hadir, penduduk pesisir Eretan Kandanghaur terbiasa menjual barang-sampah ke orang yang ngider-ngider sampah (pengumpul sampah yang berkeliling kampung). “Satu dos sampah, cuma dapat 1 botol kecil minyak goreng,” kata Rozikin yang juga diamini oleh Trisna  dan Yani. “Beroperasinya BSE bisa menambah uang dapur,” cetus Yani, seraya tersenyum lebar.

Sedang Hanif, pedagang mie ayam yang mangkal tepat di depan BSE, menyatakan keberadaan bank sampah bermanfaat mengurangi tumpukan sampah. “Dulu saya lihat banyak tumpukan sampah di pinggir sungai. Tapi sejak ada BSE, tumpukan sampah mulai berkurang,” kata pria berusia 33 tahun ini. Dirinya berharap berdirinya BSE juga dapat menyadarkan dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan dan kesehatan. Semoga! (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*