Dirjen Migas Sebut Banyak Peluang Investasi Hulu Migas  Indonesia

49900
Dirjen Migas Siap Sesuaikan Harga BBM
Foto : mediaindonesia.com

indoPetroNews- Negara Jepang menjadi salah satu mitra Indonesia sejak lama, termasuk juga kerja sama di sektor migas seperti kontrak jual beli LNG dan hulu migas di Proyek Masela dan Kangean.Karena itu, Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengundang pengusaha Jepang untuk berinvestasi di proyek hulu dan hilir serta infrastruktur migas Indonesia.

“Jepang merupakan salah satu investor terbesar kami dalam proyek hulu dan infrastruktur minyak dan gas bumi. Di era Presiden Joko Widodo, pembangunan infrastruktur energi telah menjadi salah satu prioritas utama nasional,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Minyak dan Gas Bumi (Migas) Ego Syahrial saat berbicara dalam acara JOGMEC Techno Forum 2017 yang diprakasai oleh Jepang Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC) dan Ministry of Economy, Trade and Industry (METI), Selasa (28/11/2017) di Palace Hotel Tokyo, Jepang. Minyak dan gas bumi masih memegang peranan penting dalam bauran energi nasional.

Indonesia, ungkap Ego, masih sangat tergantung pada energi fosil. “Saat ini merupakan produsen sekaligus konsumen. Pada tahun 2016, konsumsi minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari. Padahal produksinya hanya 830.000 barel per hari,” tandasnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dilakukan impor sebanyak 780.000 barel per hari berupa minyak mentah dan produk. Untuk LPG, konsumsi Indonesia mencapai 6,6 juta MT, sementara produksi 2,1 juta MT. Artinya, imbuh Ego, dilakukan impor 4,5 juta MT.

Namun berbeda dengan gas, kata Ego, Indonesia masih mengekspor gas 2,4 juta BSCFD. Konsumsi gas mencapai 4,8 BSCFD dan produksinya 7,3 BSCFD.

Produksi minyak Indonesia berasal dari cadangan yang tersebar di seluruh wilayah. Total cadangan minyak Indonesia 7,2 miliar barel, sedangkan cadangan gas 144 TSCF. Saat ini terdapat 280 kontrak kerja sama yang aktif, terdiri dari 195 kontrak eksplorasi dan 85 kontrak eksploitasi.

Produksi minyak Indonesia mengalami penurunan karena lapangannya sudah tua serta tidak adanya penemuan minyak baru. “Ada banyak peluang investasi dalam pengembangan hulu migas di Indonesia,” tegas Ego. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*