Empat Faktor Penyebab Jebloknya Minat Investor Hulu Migas

18500
Empat Faktor Penyebab Jebloknya Minat Investor Hulu Migas
Iwan Ratman/Foto : Istimewa

indoPetroNews- Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) nyaris pudar sejak medio 2014 akibat jebloknya harga minyak mentah di pasar dunia. Di Tanah Air, tidak bergairahnya sektor hulu migas terlihat dari tidak lakunya lelang Wilayah Kerja (WK) Minyak dan Gas Bumi (Migas) yang ditawarkan pemerintah sejak 2015 silam. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) telah berusaha keras untuk menggairahkan bisnis ini. Disamping itu, pemerintah juga menerapkan berbagai strategi untuk menarik investor dengan menawarkan berbagai kemudahan. Sebut saja misalnya memberikan kelonggaran pajak serta mengubah kontrak PSC cost recovery menjadi PSC gross split. Namun hasilnya tetap belum optimal.

Menurut praktisi migas Dr Iwan Ratman, ada 4 hal yang menyebabkan tidak bergairahnya bisnis migas. Pertama, lanjut Iwan, lesunya sektor hulu migas tidak bisa dilepaskan dari rendahnya harga minyak mentah dunia. Diketahui, harga minyak mentah dunia saat ini berada di kisaran 50-54 dolar AS per barel. Harga ini merosot jauh dari sebelumnya yang mencapai hingga 100 dolar AS per barel. “Ditambah banyak faktor lain yang membuat minat investor kurang bergairah,” kata Iwan dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (23/11/2017) di Jakarta.

Faktor kedua, ungkap Iwan, adalah skema Gross Split yang sejak lama gencar dikampanyekan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. Sayangnya, Gross Split bagi investor merupakan skema yang kurang menarik lantaran tidak adanya pembagian risiko dengan pemerintah, sebagaimana dianut cost recovery. Alhasil, investor dipastikan lebih hati-hati sebelum melakukan eksplorasi.

“Investor akhirnya lebih berminat di blok migas yang sudah produksi karena sudah jelas dapat dihitung keekonomiannya. Biar bagaimanapun investor selaku pelaku bisnis akan menempatkan pertimbangan keekonomian suatu blok migas sebelum memutuskan berinvestasi,” papar Iwan.

Ketiga, kata Iwan, adalah regulasinya. Menjadi rahasia umum bahwa revisi UU Migas belum rampung walaupun sudah lima tahun dibatalkan Mahkamah Konstitusi (MK). “Ketidakpastian hukum berbisnis migas masih menjadi momok yang menghambat masuknya investasi,” katanya.

Lebih jauh dia juga menegaskan, evaluasi penempatan SDM di jajaran manajemen SKK Migas juga perlu dilakukan. “Karena penempatan SDM yang tidak punya kapabilitas di SKK Migas akan membuat pihak investor khawatir akan kelangsungan investasinya.”

Keempat, imbuh Iwan, masih adanya tumpang tindih dan carut-marut manajemen operasi migas juga turut menyumbang kenapa sektor hulu migas mengalami kelesuan. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*