SKK Migas Adakan Sharing Session Gross Split

19800
SKK Migas Adakan Sharing Session Gross Split
istimewa

indoPetroNews- Skema Gross Split saat ini sudah mengalami perubahan. Karena itu para akuntan publik harus tahu perkembangannya.

“Pihak auditor juga tidak salah langkah,” kata Arief Setiawan Handoko, Sekretaris SKK Migas dalam sambutannya pada acara Sharing Session tentang Konsep Bagi Hasil Gross Split,  Kamis (9/11/2017) pukul 08.00 – 12.00 WIB di Gedung City Plaza Lantai 9 – Hall C, Jakarta. Hal ini berkaitan dengan implementasi Peraturan Menteri ESDM No. 08 Tahun 2017 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split dan Peraturan Menteri ESDM No. 52 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri ESDM No. 08 Tahun 2017 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split.

Menurut Arief, peraturan dalam bisnis minyak dan gas bumi ini perlu diketahui oleh bagian keuangan dan perencanaan. Hal ini agar tidak salah dalam mengambil keputusan dan perencanaan.

Jamak diketahui, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan  pada 29 Agustus 2017 telah menetapkan Permen ESDM No. 52 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Permen ESDM No. 08 Tahun 2017 Tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split.

Dalam pertimbangannya dinyatakan bahwa untuk meningkatkan investasi di bidang kegiatan usaha hulu migas perlu mengatur kembali ketentuan-ketentuan pokok yang diberlakukan dalam kontrak bagi hasil Gross Split sebagaimana diatur dalam Permen ESDM No. 08 Tahun 2017 tentang kontrak bagi hasil Gross Split.

Pasal 1 Peraturan Menteri ini menyebutkan beberapa ketentuan yang terdapat di Permen ESDM No. 08 Tahun 2017 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split yang diubah menjadi:

1. Ketentuan ayat (4) dan ayat (5) pasal 6 diubah dan di antara ayat 4 dan ayat 5 disisipkan 1 ayat, yakni ayat (4a) sehingga pasal 6 mengalami perubahan.

Pasal 6 menjadi berbunyi:

1. Pada saat persetujuan pengembangan lapangan, besaran bagi hasil awal (base split) yang disesuaikan dengan komponen variabel dan komponen progresif.

2. Komponen variabel yang dimaksud meliputi:

Pertama, status wilayah kerja. Kedua, lokasi lapangan. Ketiga, kedalaman reservoir. Keempat, ketersediaan infrastruktur. Kelima, jenis reservoir. Keenam, kandungan karbon-dioksida (CO2). Ketujuh, kandungan hydrogen-sulfida (H2S). Kedelapan, berat jenis (Spesific Grafvity) minyak bumi. Kesembilan, tingkat komponen dalam negeri pada masa pengembangan lapangan. Kesepuluh, tahapan produksi.

3. Komponen tersebut mengacu pada lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Permen ini.

4. Komponen progresif terdiri atas harga minyak bumi, harga gas bumi, dan jumlah kumlatif produksi migas

Pasal 6 ayat 4a berbunyi, terhadap SKK Migas Selenggarakan Sharing Session Gross Split. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*