eSPeKaPe Dorong Presiden JKW Ubah  Jalan Perwira Jadi Jalan Ibnu Sutowo

43300
Produksi Gas PHE Kuartal I 2018 Naik Dua Persen
Foto : tahuberita.com

indoPetroNews- Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina (eSPeKaPe) mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Apa isi suratnya?

eSPeKaPe memohon agar Ibnu Sutowo diabadikan sebagai nama jalan menggantikan jalan Perwira, Jakarta pusat.

Dalam executive summary yang menjadi lampiran surat eSPeKaPe tersebut dan berjudul Ibnu Sutowo Pahlawan Minyak dan Gas Bumi, dalam rilisnya kepada pers (8/11/2017), Ketua Umum eSPeKaPe, Binsar Effendi Hutabarat, diungkapkan mulai dari biographynya.

Menurut Ketua Umum eSPeKaPe, dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa (PSPB), Ibnu Sutowo adalah seorang dokter tamatan pendidikan kedokteran NIAS di Surabaya pada tahun 1940. Semasa perang kemerdekaan, Ibnu Sutowo merasa terpanggil dan direkrut menjadi tentara dengan pangkat tituler mayor dan ditetapkan sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Tentara di Sumatera Selatan pada 1946-1947. Pada 5 September 1955 sampai 2 Juli 1956, Ibnu Sutowo ditunjuk sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) TT-II Sriwijaya ke-4 yang menggantikan Letkol Bambang Utoyo.

Oleh karena migas merupakan andalan setempat, pemerintah daerah lalu mendirikan Perusahaan Minyak Republik Indonesia (Permiri) sebagai pengelola pertambangan. Ibnu Sutowo duduk sebagai pengurus Permiri. Sejak itu pula kemudian Ibnu Sutowo belajar secara langsung dari lapangan, menimba seluk-beluk pengelolaan migas sambil memetik Zaleha, anak pasirah dari Martapura, Sumatera Selatan, sebagai istrinya. Itulah sebabnya oleh Presiden Soekarno (Bung Karno)  ditunjuklah Ibnu Sutowo sebagai Menteri Minyak Dan Gas Bumi ke-3 pada masa bakti 28 Maret 1966 – 25 Juli 1966, menggantikan Armunanto.

Sebelumnya pada bulan Oktober 1957, KSAD, Jenderal Abdul Haris Nasution menunjuk Ibnu Sutowo yang saat itu berpangkat kolonel untuk mengelola PT Tambang Minyak Sumatera Utara (TMSU) atau PT Permina (Pertambangan Minyak Nasional Indonesia). Pada 20 Agustus 1968, perusahaan ini digabung dengan perusahaan minyak milik negara lainnya menjadi Pertamina. Dan, Presiden Soeharto kemudian menunjuk Kolonel Ibnu Sutowo sebagai Direktur Utama Pertamina pada 1968-1976.

Dia juga menuturkan Ibnu Sutowo dengan demikian adalah mantan tokoh militer Indonesia dan tokoh yang mengembangkan Permina, yang kemudian berubah menjadi Pertamina. Saat menjadi Direktur Utama Pertamina, Ibnu Sutowo langsung melakukan konsolidasi organisasi secara pragmatis dan pembinaan personal dalam semangat belajar sambil bekerja, yang diwujudkan lewat pendidikan internal, serta melakukan inventarisasi material dan efisien.

Hubungan dengan para dealer migas oleh Ibnu Sutowo ditinjau ulang, hubungan baru diciptakan. Tangki-tangki mobil ditertibkan, dibangun tangki kapasitas baru yang jauh lebih besar. Tindakan drastis ini adalah merupakan bentuk pernyataan perang Ibnu Sutowo terhadap pedagang-pedagang gelap minyak yang tersebar di mana-mana, yang sekarang ini dikenal dengan sebutan ‘mafia migas, ujar Binsar Effendi.

Keberhasilan Ibnu Sutowo memenangi perang, membuat Pertamina berkembang dan selanjutnya menjadi pemain utama dalam bisnis bahan bakar miyak (BBM). Bahkan, tidak sekadar mampu untuk menjamin distribusi merata, melainkan Ibnu Sutowo juga mampu membangun armada tanker, merancang sistem bagi hasil menguntungkan, serta merintis penambangan gas alam yang dicairkan (Liquefied Natural Gas/LNG).

Dalam kondisi meraih sukses, Ibnu Sutowo mengakui harus ngobyek karena gajinya hanya Rp. 70.000 sebulan dan sebagai Direktur Utama Pertamina saat itu gajinya tidaklah cukup untuk mengurus seorang istri dengan tujuh anak, tiga mobil, berikut rumah luas di Jalan Tanjung, Menteng, Jakarta Pusat. “Meski ngobyek, tapi setiap etika bisnis selalu Pak Ibnu pertahankan, yang semuanya dalam pengakuan Pak Ibnu tidak punya hubungan sama sekali dengan Pertamina yang dipimpinnya”, ujar Binsar Effendi. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*