BBM Ron 89 Vivo, Bukti Liberalisasi Migas

43600
eSPeKaPe Doakan Iwan Ratman Jadi Dirut Pertamina Definitif
dok. istimewa

indoPetroNews- Penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) Ron 89 milik Vivo memberikan bukti liberalisasi sektor hilir minyak dan gas bumi (migas) terutama untuk BBM yang banyak dikonsumsi masyarakat bawah. Diketahui, alasan pemerintah membolehkan PT Vivo Energi menjual BBM Ron 89 dalam upaya mewujudkan program BBM Satu Harga dengan menyediakan bensin murah untuk rakyat.

Menurut Dr Iwan Ratman, praktisi Migas, pernyataan pemerintah itu memakai logika terbalik. Penugasan Pertamina untuk BBM satu harga sempat menimbulkan polemik karena Pertamina menyatakan mengalami kerugian puluhan trilyun. Sedangkan Vivo tidak ditugaskan untuk menjual BBM level bawah di semua pelosok negeri termasuk Papua. Alasannya karena tidak ekonomis.

“Dengan tampilnya Vivo di pasar premium, tentu akan menggerus pasar Pertamina, sehingga margin subsidi harga premium yang diterapkan Pertamina tidak mampu menutup beban kerugian program BBM Satu Harga,” kata Iwan kepada media, Rabu (8/11/2017) di Jakarta. Artinya Pertamina makin terpuruk.

Sejak 2 tahun lalu dimasa Dwi Sucipto sebagai Dirut, lanjut Iwan, pemerintah mendorong Pertamina untuk mempromosikan penjualan BBM Ron 90 (Pertalite) agar mengurangi konsumsi publik terhadap BBM ron 88 (Premium). “Tapi dengan keberadaan BBM Ron 89 Vivo menunjukkan bahwa kampanye tersebut akan bertolak belakang dengan usaha yang telah dilakukan selama ini. Jadi sekarang baru ketahuan ada apa dibalik program BBM Satu Harga dan promosi Pertalite. Ada udang dibalik batu ini,” tandasnya.

Dia juga mengatakan, adanya Vivo yang menjual Premium lebih murah dari Pertamina nampaknya pemerintah ingin Pertamina lebih bisa bersaing dengan swasta dalam menjual Premium yang lebih murah. Namun di satu pihak, pemerintah memberi beban Pertamina dengan beban harga BBM Hatu Harga.

Jadi tidak salah, kata Iwan, kalau pemerintah memang ingin mengkerdilkan Pertamina. “Ibarat tinju, Pertamina bertarung dengan tangan terikat sehingga lawan dengan mudah dapat meng KO kan Pertamina,” tegas Iwan.

Padahal Pertamina adalah anak kandung pemerintah yang sebenarnya wajar mendapatkan perlindungan dalam persaingan. Di semua negara, perusahaan minyak nasional pasti dilindungi oleh pemerintahnya, sehingga dapat tumbuh dan berkembang dalam persaingan yang sehat dalam berbisnis migas. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*