Waspada Penyakit Demensia

12800
Waspada Penyakit Demensia
Foto : flickr.com

indoPetroNews- Otak adalah pusat kontrol dari aktivitas. Cara kerjanya adalah meneruskan rangsangan yang diterima ke seluruh organ. Fungsi lain dari organ ini adalah menyimpan memori. Saat kinerja otak menurun, memori dapat tergerus sehingga menyebabkan penyakit pikun atau demensia.

Terdapat tiga tahap dalam proses mengingat pada otak. Pertama adalah registrasi, otak akan menyerap informasi baru yang diterima. Informasi ini dapat berupa rasa, bentuk, warna, suara, rangsangan, maupun peristiwa yang ditangkap panca indera dan kemudian diteruskan ke otak. Tahap kedua disebut retensi. Tahap terakhir adalah recall atau mengingat kembali informasi.

Otak yang masih berfungsi dengan baik akan dengan mudah melakukan tahap recall. Jika seseorang sudah mengalami kesulitan untuk tahap recall, maka dapat dikatakan orang tersebut mengalami kemunduran memori atau lupa.

Penyakit lupa dibagi menjadi empat level, lupa yang wajar (forgetfulness), lupa ringan atau benign senescent forgetfulness (BSF), gangguan kognitif ringan (mild cognitive impairment/MCI), dan yang paling parah adalah pikun atau dikenal juga sebagai demensia. Forgetfulness banyak terjadi pada otak yang menua (fisioloagis). Pasien akan mengalami gangguan saat recall dan kesulitan mengeluarkan
apa yang tersimpan dalam memori (retrieval). Akan tetapi masih dibantu mengingat kembali dengan diberikan isyarat (cue).

Selanjutnya, pasien BSF mengalami gangguan untuk recall oleh fisiologis. Penyakit ini sering dijumpai di kelompok umur lebih dari 50 tahun. Mereka mulai mengeluhkan sering lupa menaruh barang, janji, nama orang atau wajahnya, nama benda, nama
peristiwa dan lainnya. Aktivitas pasien BSF akan normal, karena fungsi kognisinya normal. Mereka tidak akan begitu kesulitan apabila diberi isyarat atau dibantu dalam pengenalan kembali. Pasien cenderung sering menjabarkan fungsi, bentuk atau peristiwa dari hal-hal yang dilupakan.

Pasien penderita MCI hampir sama seperti BSF, walaupun ada gangguan pada memorinya namun fungsi kognitifnya masih baik. Akan tetapi mereka berisiko tinggi untuk mengidap Alzheimer di mana setelah kurang lebih empat tahun mengalami MCI,
peluangnya satu banding dua mengalami demensia. Pada otak pasien ini sudah ada gangguan di hipokampus otak yang bertugas mengelola memori. Selain itu pada korteks otak didapati bercak-bercak amyloid difus.

Seseorang kemungkinan mengidap MCI apabila mengalami minimal dua dari gejala-gejala, seperti; tersesat saat bepergian; kemunduran pekerjaan yang disaksikan rekan kerjanya; kesulitan menyebut nama atau kata; materi yang diingat setelah membaca
sedikit; sulit mengingat nama orang yang baru dikenal; kehilangan atau lupa menaruh barang berharga; dan gangguan konsentrasi yang nyata pada tes klinis.

Level terakhir, demensia. Daya ingat atau fungsi luhur lain pasien demensia menurun, selain itu interaksi sosial pun merosot. Gejala yang dialami berupa perubahan perilaku pasien sering curiga tak beralasan, tidak semangat hidup, sulit tidur dan kecemasan yang berlebihan. Mereka pun umumnya mengalami perubahan emosi dan hubungan sosial, serta tidak memperdulikan norma sosial. Pasien juga mengalami kemunduran fungsi intelektual, bahkan kehilangan kemampuan untuk berhitung. Penyakit ini dapat disebabkan oleh stress, kebiasaan merokok, kurang beraktivitas, obesitas, kurangnya konsumsi makanan sehat, diabetes, dan meminum alkohol.

Demensia dapat menyebabkan kita melupakan hal berharga, termasuk keluarga. Cegahlah demensia dengan rajin olahraga dan konsumsi makanan sehat, seperti sayur dan buah. Kebiasaan baik ini sebaiknya dimulai dari usia muda agar hidup sehat dan bahagia di usia lanjut. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*