Coiled Tubing Gas Lifting Solusi Efektif untuk Pengembangan Sumur

63500
Coiled Tubing Gas Lifting: Solusi Efektif untuk Pengembangan
Foto : wordpress.com

indoPetroNews- Langkah-langkah dilakukan untuk mengembangkan sumur bervariasi, baik menggunakan fluida maupun zat kimia. Banyak Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) yang terus berinovasi menentukan metode pengembangan yang cocok dengan lapangannya.

Lapangan Minyak Mature VICO telah mengoperasikan Blok Sanga Sanga sejak 1969. Blok yang berlokasi Cekungan Kutai, Kalimantan Timur ini merupakan penghasil minyak
dan gas bumi (migas). Lapangan yang dioperasikan VICO di antaranya adalah Nilam, Badak, Mutiara, dan Semberah. Di blok ini terdapat lapangan dengan cadangan gas yang besar di Indonesia, selain minyak.

Sejak mulai beroperasi hingga sekarang Blok Sanga Sanga telah memproduksi gas sebesar 12 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/TCF) dan 240 juta barel minyak (million barrels oil/MBO).

“Jika sebelumnya Sanga Sanga termasuk lapangan penghasil migas yang besar di Indonesia, maka di saat ini produksinya malah sudah menurun sejak 2002,” kata Section Head Resource Development Team VICO, Musyoffi Yahya, saat mengisi acara Workshop Sharing Teknologi yang diadakan di kantor Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Jakarta, Maret lalu.

Produksi gas Sanga Sanga saat ini ada di sekitar 150 MMSCFD, dari produksi puncak mencapai 1.500 MMSCFD. Sedangkan untuk produksi minyak, saat ini hanya berkisar 11.000 barel minyak per hari (barrels oil per day/BOPD), dari produksi puncak
di titik 40.000 BOPD. Menurut Musyoffi, penurunan produksi lapangan-lapangan ini dikarenakan tingkat kematangan lapangan sudah memasuki fase very mature (matang), sehingga tekanan dalam sumur pun hilang. Selain itu yang menjadi tantangan di Sanga
Sanga ada rasio gas dan cairan yang rendah, dan tidak produksi air.

“Keadaan ini tidak membuat kami berhenti mencari cara untuk mengoptimalkan produksi sumur kami. Karena berdasarkan riset kami adanya peluang ditemukannya minyak adalah 8 dari 10 sumur. Dan sejauh ini, minyak sendiri kontribusinya dalam
pendapatan perusahaan,” katanya.

Kondisi geologi Sanga Sanga yang merupakan deltaic fluvial (endapan sungai di delta) membuat jenis reservoirnya berupa multilayer (banyak lapisan) dan sparse (menyebar dan tipis), sehingga reservoir terletak di beberapa kedalaman. Semakin dalam letak reservoir, permeabilitas (kemampuan batuan meloloskan fluida)-nya semakin rendah. Musyoffi menjelaskan dalam keadaan tersebut, tidak mungkin digunakan metode dedicated oil completion karena akan tidak ekonomis jika digunakan pada reservoir di
lapangan-lapangan Blok Sanga Sanga. Maka dipilihlah metode coiled tubing gas lifting (CTGL).

Prinsip kerja CTGL adalah dengan menginjeksi gas bertekanan tinggi ke dalam annulus (ruang antara tubing dan casing), sehingga terjadi proses aeration (aerasi) yang mengakibatkan berkurangnya berat kolom fluida dalam tubing. Tekanan tinggi yang
masuk ke reservoir ini nantinya mampu mangalirkan fluida dari lubang sumur menuju fasilitas produksi di permukaan. Di fasilitas produksi ini, fluida yang terdiri dari minyak dan gas akan terpisah dengan sendirinya akibat adanya perbedaan berat jenis. Setelah terpisah dari minyak, fluida gas kemudian dipakai lagi untuk proses injeksi berikutnya. Dengan CTGL, tekanan gas saat injeksi dapat disesuaikan menggunakan kompresor dengan kedalaman tempat reservoir berada. Kemudahan pemasangan (installment)
teknologi ini pun menjadi keuntungan tersendiri bagi VICO yang memiliki banyak sumur dan tersebar di area operasi.

Musyoffi menambahkan, CTGL terbukti efektif dan murah untuk diaplikasikan di sumur monobore completion (pemasangan satu bor). Hanya dibutuhkan sekitar 24 hari untuk pemasangan setelah desain sumur dibuat. Bahkan setelah pengembangan teknologi ini dimulai VICO pada 2010, produksi minyak di Sanga Sanga terus bertambah secara berkelanjutan hingga 70 persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*