Berikut Pemicu Penurunan Produksi Minyak OPEC Hingga 80.000 bph

19600
OPEC Himbau Anggotanya Genjot Produksi
Foto : seputarforex.com

indoPetroNews- Produksi minyak OPEC turun hingga 80.000 barel per hari (bph) pada Oktober karena jatuhnya ekspor minyak mentah Irak dan komitmen pengurangan pasokan oleh produsen-produsen seperti yang telah disepakati sebelumnya. Hal ini disampaikan Reuters, Selasa (31/10/17).

Selain itu, kenyataan bahwa eksportir utama Arab Saudi terus memproduksi di bawah target OPEC dan produksi di Venezuela, yang sedang berada dalam depresi ekonomi, semakin menurunkan angka produksi.

Penurunan produksi Irak telah membantu mendukung harga. Patokan global, minyak mentah Brent pada Jumat (27/10) mencapai USD60 per barel, harga yang Arab Saudi lihat sebagai tingkat yang baik, untuk pertama kalinya sejak 2015.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengurangi produksi mereka sekitar 1,2 juta barel per hari sampai Maret tahun depan, sebagai bagian dari kesepakatan dengan Rusia dan produsen-produsen lainnya, yang juga melakukan pemotongan produksi. Produsen-produsen diperkirakan akan memperpanjang kesepakatan pengurangan pasokan lebih lanjut hingga 2018, saat mereka bertemu pada 30 November.

“Dengan kepemimpinan Saudi dan Rusia yang mendukung pembatasan pasokan, pertemuan OPEC bulan depan akan menjadi sebuah acara tidak penting,” kata Stephen Brennock dari broker minyak PVM.

Penurunan terbesar dalam produksi pada Oktober, 120.000 bph, berasal dari Irak. Produksi dan ekspor di Irak utara turun pertengahan bulan, ketika pasukan Irak merebut kembali kendali atas ladang minyak dari para pejuang Kurdi yang telah berada di sana sejak 2014.

Untuk produksi di Venezuela, industri minyak kekurangan dana karena kesulitan ekonomi dalam negeri, tergelincir lebih jauh di bawah target OPEC, survei Reuters menemukan. Baik ekspor maupun operasi-operasi kilang lebih rendah pada Oktober. Walaupun mayoritas turun, namun ada beberapa negara yang produksinya naik. Kenaikkan terbesar terjadi di Angola dimana ekspornya pada Oktober dijadwalkan mencapai level tertinggi 13 bulan.

OPEC tahun lalu mengumumkan target produksi 32,50 juta bph, berdasarkan angka rendah untuk Libya dan Nigeria. Target itu termasuk Indonesia, yang sejak saat itu meninggalkan OPEC, dan tidak termasuk Equatorial Guinea, negara terakhir yang bergabung.

Menurut survei tersebut, produksi pada Oktober memiliki rata-rata 32,65 juta bph, sekitar 900.000 bph di atas target yang disesuaikan untuk menghapus Indonesia dan tidak termasuk Equatorial Guinea. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*