Batan – SHS Kembangkan Varietas Padi Berbasis Radiasi Nuklir

62400

indoPetroNews- Selama ini, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) lebih dikenal untuk urusan energi. Padahal Batan pun mengembangkan (pemanfaatan) teknologi nuklir untuk bidang pertanian.

Batan menghasilkan varietas padi Tropiko melalui radiasi sinar gama. “Proses radiasi itu kerap menimbulkan ketakutan petani sehingga enggan memakainya. Ketakutan membuat nama varietas padi Batan berubah saat dipakai warga, seperti Sidenuk yang populer di masyarakat dengan nama Ciherang Delabet, Ciherang Bima, dan Ciherang Jablay,” kata Deputi Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir Batan Hendig Winarno seusai penandatanganan nota kesepahaman Batan dan PT Sang Hyang Seri (SHS) dalam pemanfaatan teknologi nuklir untuk bidang pertanian, Selasa (31/10/2017) di Jakarta.

Hendig menegaskan, radiasi sinar gama hanya dipakai sekali dengan intensitas radiasi 0,3-0,4 kilogray (kGy). Intensitas radiasi itu jauh lebih kecil dibandingkan radiasi bagi sterilisasi atau pengawetan makanan yang diperbolehkan 5-25 kGy. Beras yang dihasilkan aman dikonsumsi. Selain diradiasi, Tropiko diperoleh dengan menyilangkan varietas padi Jepang Koshihari yang punya rasa enak dan IR 36 yang tahan hama. Tropiko mampu menghasilkan rata-rata 7,5 ton gabah kering giling per hektar. Bahkan, dalam kondisi optimal, bisa 10,5 ton GKG per hektar. PT SHS melakukan uji tanam Tropiko di kebun Sukamandi, Subang, Jawa Barat, sejak 19 Juli 2017.

Hendig Winarno menyebut, tiap tahun, penyebaran aneka varietas unggul padi hasil riset Batan, seperti Sidenuk, Mira, dan Bestari, 45.000 hektar. Luasan pemanfaatan varietas padi Batan itu kecil dibandingkan luas areal tanam padi 2016 mencapai 15 juta hektar atau 0,3 persennya. ”Jaringan PT SHS yang tersebar di seluruh Indonesia akan membuat Tropiko bisa dimanfaatkan luas,” ujarnya. Apalagi, jika Tropiko masuk dalam program subsidi benih pemerintah.

Kerjasama ini juga mendapat apresiasi dari Kepala Batan. ”Kerja sama ini jadi terobosan agar varietas padi Batan dikenal dan dimanfaatkan masyarakat luas,” kata Djarot Wisnubroto. Selama ini, varietas padi unggul hasil riset Batan disebarkan ke masyarakat lewat kerja sama dengan produsen benih swasta, penangkar, dan pemerintah daerah. Itu membuat penyebaran varietas padi itu tak optimal.

Sementara itu, Direktur Utama PT Sang Hyang Seri, Syaiful Bachri, mengatakan pihaknya akan menggunakan benih Tropiko pada 3.000 hektare sawah. “Untuk tahap awal, kami akan menanam di 3.000 hektare sawah. Kami berharap proses penanaman ini dapat berjalan dengan baik,” jelas Syaiful.

Hasil penelitian dari pihaknya, menemukan bahwa benih tersebut tahan terhadap hama wereng dan penggerek batang dibandingkan benih Ciherang. “Setelah proses panen, kami akan melakukan pengujian rasa dan baru dipasarkan kepada masyarakat.” (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*