Kemenperin: Transisi ke Mobil Listrik Butuh Waktu Lama

35700
Kemenperin: Transisi ke Mobil Listrik Butuh Waktu Lama
Foto : viarohidinthea.com

indoPetroNews- Butuh beberapa waktu bagi Indonesia untuk benar-benar bertransisi dari memproduksi hingga konsumsi kendaraan bahan bakar minyak (BBM) menjadi kendaraan listrik. Alasannya adalah kesiapan infrastruktur dan industri otomotif dalam negeri.

Kesimpulan ini diambil oleh Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin), I Gusti Putu Suryawirawan, setelah kunjungannya ke Jepang untuk mengevaluasi proyek pemerintah selanjutnya pekan lalu.

“Negara maju seperti Jepang saja butuh waktu untuk transisi. Apalagi negara seperti Indonesia yang perkembangan teknologinya masih di bawah Jepang,” kata Putu di Kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (30/10/2017).

Dari awal Jepang sudah mengarahkan penggunaan listrik. Dalam prosesnya mereka melalui beberapa tahap, diawali dengan hybrid hingga jadi listrik sepenuhnya. Perubahan ini tidak bisa gradual.

Dia menjelaskan terdapat beberapa alasan perlunya masa transisi. Pertama, dampak yang ditimbulkan industri otomotif dan industri terkait lainnya dalam memproduksi mobil listrik secara keseluruhan. Jumlah komponen mesin yang digunakan oleh mobil konvensional bisa mencapai ribuan, yang diproduksi oleh banyak industri. Sedangkan, mobil listrik hanya ratusan komponen.

Kedua, kesiapan industri dalam negeri dalam memproduksi mobil listrik. Putu mengatakan, Indonesia tidak bisa gegabah dalam melakukan produksi tersebut. Karena teknologi yang digunakan cukup tinggi. Apabila memutuskan menggunakan teknologi tertentu tetapi belum mapan, dikhawatrikan akan berubah di tengah jalan. Dampaknya, industri tidak siap memproduksi mobil listrik secara berkelanjutan.

Ketiga, kesiapan pemerintah menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan. Pemerintah harus menyediakan stasiun pengisian daya baterai mobil listrik (charging station) atau SPLU. “Jangan sampai, mobil listrik telah siap diproduksi, tapi infrastruktur sulit ditemukan. Pemerintah juga harus memikirkan lamanya satu buah mobil mengisi daya. Sehingga, perlahan diperlukan waktu transisi untuk tidak langsung menggunakan tenaga listrik sepenuhnya,” katanya.

Perlunya masa transisi ini juga sempat diungkapkan oleh produsen otomotif PT Astra International Tbk. Perusahaan ini meminta pemerintah melakukan transisi terlebih dulu, sebelum mengembangkan mobil listrik di Indonesia. Salah satu caranya dengan mengembangkan mobil dengan teknologi hybrid.

“Jadi, istilahnya kalau ke Bogor lewat Jagorawi dulu lah. Kalau mau ke listrik tulen, saya rasa ke hybrid dulu,” ujar Direktur Utama Astra Prijono Sugiarto beberapa waktu lalu.

Agar transisi menuju mobil listrik berhasil, pemerintah juga perlu memberikan insentif untuk mengembangkan teknologi hybrid. Untuk itu, Sugiarto berharap pemerintah dapat membuat peraturan baru terkait dengan emisi karbon, termasuk penggunaan teknologi hybrid.(Gadih)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*