Minyak AS di Pasar Asia Ancam Dominasi OPEC

6600
API Sebut Stok Minyak Mentah AS Turun
Foto : merdeka.com

indoPetroNews- Kawasan Asia telah menjadi target pasar ekspor minyak mentah Amerika Serikat (AS). Hal ini tentu mengancam para produsen minyak mentah anggota OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak), yang selama ini mendominasi pasar di Asia.

Harga yang lebih kompetitif dibandingkan minyak OPEC membuat nilai ekspor minyak mentah AS terus tumbuh. Terlebih adanya konflik politik antara negara anggota OPEC di kawasan Timur Tengah sering membuat pasokan minyak ke Asia mandet.

Dikutip dari CNBC, masuknya minyak AS ke pasar Asia menjadi kabar baik bagi para importir, karena punya pemasok alternatif dengan harga yang lebih bersaing.

“Pilihan lebih banyak tersaji, sehingga pemilik kilang di Asia punya alternatif pemasok untuk memenuhi kebutuhan impor minyak,” kata Direktur JTD Energy Services, John Driscoll di Singapura, seperti dikutip CNBC, Senin (30/10).

Minyak mentah AS sudah masuk ke pasar Asia sejak awal Oktober, ditandai dengan tibanya 1,6 juta barel importasi minyak ke India. Realisasi impor ini merupakan buah kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke AS pada Juni silam. Saat itu, Modi menegosiasikan pasokan minyak untuk tiga kilang India dengan total kebutuhan hampir 8 juta barel per hari.

Penetrasi pasar produsen minyak AS diawali ketika pada 2015, Presiden Barack Obama mencabut larangan ekspor minyak yang sudah berlaku selama 40 tahun. Faktor harga yang bersaing, membuat minyak produksi AS lebih disukai pembeli.

Untuk diketahui, di pasar dunia terapat dua jenis harga minyak mentah yang menjadi acuan utama. Yaitu Brent yang merupakan minyak produksi Laut Utara (Kawasan Eropa), serta West Texas Intermediate (WTI) yang merupakan minyak produksi Amerika Serikat.

Minyak Brent punya kandungan sulfur sedikit lebih tinggi dibandingkan WTI. Ini juga membuat pengelola kilang lebih suka mengolah minyak WTI ketimbang Brent.

Dalam dua tahun terakhir, selisih harga antara dua jenis minyak mentah yaitu Brent dengan WTI terus membesar. Pada awal Oktober, harga WTI 6 dolar AS lebih murah untuk setiap barel-nya dibandingkan Brent.

“Selisih harga itu jadi pertimbangan utama setiap pembeli,” papar Droll yang sudah 40 tahun berkecimpung di perdagangan minyak mentah.

Tak mengherankan jika ekspor mintak AS terus meningkat. Data hingga pekan terakhir di September, ekspor mencapai 1,98 juta barel per hari. Tiga korporasi utama di AS dengan produksi minyak terbesar adalah Exxon, Chevron, dan ConocoPhillips.

Konsultan dan Lembaga Riset Energi Wood Mackenzie memproyeksi ekspor minyak AS akan mencapai 3 juta barel per hari pada 2022. “Minimal sepertiganya akan diserap oleh pasar Asia,” kata Kepala Ekonom Wood Mackenzie, Ed Rawle. (Gadih)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*