ESDM Siapkan Permen Turunkan Harga Gas

21500
ESDM Siapkan Permen Turunkan Harga Gas
Foto : tempo.co

indoPetroNews- Harga gas tinggi yang menjadi hambatan berkembangnya industri gas bumi di Indonesia akan segera diturunkan. Disebutkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menggodok Peraturan Menteri tetang harga gas yang akan turun sebesar US$0,5-US$1 per million british thermal unit (MMBTU).

Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Muhammad Khayam, mengatakan meski penurunan tersebut tidak signifikan seperti harapan pelaku usaha, namun ini merupakan progres atau respon atas permintaan industri.

“Ini sebagai langkah pertama dulu, yang penting ada dulu yang kami kejar,” kata Khayam, di Jakarta, Selasa (17/10/2017).

Dia menambahkan bahwa Peraturan Menteri ini akan mengatur harga jalan tol gas yang ada. Sehingga tidak ada pihak yang mengambil keuntungan di luar batas.

Sebelumnya, Kemenperin telah memberikan rekomendasi bagi 86 perusahaan untuk bisa menikmati penurunan harga gas. Namun, jumlah perusahaan yang mendapatkan potongan harga gas baru delapan perusahaan. Hal ini sesuai dengan Permen ESDM Nomor 40 Tahun 2016 tentang Harga Gas Bumi untuk Industri Tertentu.

Bila dirinci, delapan perusahaan tersebut, antara lain PT Petrokimia Gresik, PT Krakatau Steel, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Kaltim Parna Industri, PT Kaltim Methanol Industri, PT Pupuk Kujang Cikampek, PT Pupuk Kalimantan Timur, dan PT Pupuk Sriwidjaja Palembang.

“Kan sekarang baru tiga sektor, sedikit sekali dari 86 perusahaan, jadi hanya berapa persen,” jelas dia.

Sementara itu, draf Permen ESDM ini masih berada di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Ia belum dapat memastikan kapan Permen ESDM tersebut diterbitkan.

Adapun, meski perusahaan pupuk telah diberikan diskon harga gas, tetapi industri pupuk masih meminta penurunan harga gas hingga US$3 per MMBTU dari posisi saat ini yang rata-rata berada di posisi US$6 per MMBTU.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin mengatakan, komponen gas sendiri menyumbangkan 70 persen dari total biaya produksi. Sementara, perusahaan membeli gas menggunakan sistem take or pay, sehingga pembayaran tetap dilakukan meski tidak digunakan.

“Suplai dunia saat ini 240 juta ton, sedangkan pemakaian dunia hanya 180 juta ton. Jadi sudah over supply. Persaingannya, siapa yang bisa masuk ke pasar 180 juta adalah yang baik dan biayanya rendah,” ujar Aas kemarin. (Gadih)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*