Harga EBT Seharusnya Gunakan Sistem Regresion

24300
Teknologi Penentu Keberhasilan Pengembangan EBT
Foto : greeners.co

indoPetroNews- Pelaku usaha dibidang Energi Baru Terbarukan (EBT) meminta agar harga EBT tidak menggunakan sistem flat tapi regresion. Misalnya 115 persen dari BPP 8 tahun pertama, 8 tahun kedua, 100 persen 8 tahun berikutnya, lalu baru dibawah 100 persen.

Hal ini menjadi insentif ke pihak swasta yang berpikirnya bagaimana balik modal dulu. Demikian   diungkapkan oleh Halim Kalla, Wakil Ketua Umum Kadin  EBT pada sejumlah media, Selasa (3/10/2017) di Jakarta. Setelah itu baru pengusaha dapat memberikan sumbangan ke pemerintah.

Skema demikian, imbuh HaIim agar  target 23 persen EBT seperti program pemerintah dapat berjalan. Selama ini EBT memang berjalan tetapi targetnya tidak tercapai.

Menurutnya, pemerintah telah  menjanjikan bahwa akan membantu untuk mencarikan kredit.  “Kita sudah bilang dengan bunga sekarang12 persen itu mustahil bisa jalan. Selama ini pemerintah selalu menjanjikan adanya bantuan dari negara luar yang bunganya rendah dan itu akan digunakan swasta untuk investasi, tapi belum ada sekarang,” kata Halim

Dia juga membandingkan kondisi pengembangan PLTS di Dubai. “Di sana semuanya 0 bunga. Bahkan ada insentif khusus, lahan gratis, distribusi listrik infrastruktur sudah siap serta pembangunannya juga skala besar 2000-3000 MW sehinga sangat efisien,” paparnya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*