Indonesia Belum Jadi Importir Gas Alam

13000
Indonesia Belum Jadi Importir Gas Alam
Foto : migasenergynews.com

indoPetroNews- Indonesia tidak akan kekurangan pasokan gas. Apa alasannya?

Perhitungan dalam neraca gas yang ada sekarang kurang akurat. “Kurang atau tidak, lihat neraca gas dulu. Coba lihat dulu neracanya dulu,” kata Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, Selasa (19/9/2017)  di Kementerian ESDM, Jakarta. Neraca gas bumi sekarang sedang direvisi.

Menurutnya, Indonesia belum akan menjadi importir gas dalam waktu dekat. Buktinya, sampai sekarang masih banyak LNG yang tak terserap di dalam negeri.

Sebagai catatan, pada 2014 ada 22 kargo LNG yang tak terserap, rincian 16 kargo diekspor dan sisanya untuk domestik. Setahun kemudian membengkak jadi 66 kargo, rinciannya 60 kargo diekspor dan 6 kargo untuk dalam negeri. Tahun lalu juga ada 66,6 kargo tidak terserap, rinciannya 43 kargo diekspor dan 23,6 kargo untuk dalam negeri.

Pembangunan infrastruktur gas di dalam negeri pun tetap didorong meski Pertamina ekspansi bisnis gas ke Bangladesh dan negara-negara lainnya.

“Di neraca gas sudah ada program kita (bangun infrastruktur) tahun sekian, tahun sekian,” katanya.

Kendati Indonesia disebut tidak bakal mengimpor gas tetapi faktanya terungkap ke publik telah ada penandatanganan kesepakatan studi kelayakan bersama antara PLN dengan perusahaan dagang Singapore Keppel Submarine dan Pavilon Gas Ltd pada 7 September 2017.

Peristiwa tragis itu akan menjadi catatan sejarah kelam dari negara bekas  produsen LNG terbesar di dunia harus mengiba pada negara kecil dan tidak mempunyai sumber migas.

“Kita seakan mengemis minta dibuatkan sebuah studi kelayakan penyediaan dan penyuplaian LNG skala kecil untuk kebutuhan gas Mobil Power Plant milik PLN di sekitar kepulauan Riau,” kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman kepada sejumlah media, Selasa (19/9/2017) di Jakarta.

Padahal Indonesia mempunyai ratusan tenaga ahli bidang LNG yang sudah membuktikan kemampuannya bisa membangun dan mengoperasikan kilang Arun dan Bontang sejak dibangun pada 1976. Juga kilang LNG Tangguh  1, 2 dan 3 serta kilang LNG  Donggi Senoro. “Pada 1998 kita bisa membangun pipa bawah laut sepanjang 650 km dari lapangan Natuna B ke Singapura dan dari Grissik lewat Batam ke Singapura,” tandasnya.

Menurut Yusri, impor LNG terjadi karena  maraknya praktik “mark up” dan “pajak preman” secara masif, terstruktur  dan sistematis mulai dari hulu sampai hilir sektor migas. “Belum lagi munculnya banyak trader yang hanya bermodalkan kertas saja karena  hubungan dekatnya dengan penguasa yang lagi berkuasa,” katanya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*