Invisible Killer di Dunia Migas

58800
Api Sudah Padam, Warga Ranto Peurelak Aceh Harus Waspada Gas Beracun
Foto : eeukitd.com

indoPetroNews- Sarat dengan modal, risiko, dan teknologi, industri minyak dan gas bumi (migas) pun berisiko terhadap kesehatan. Kandungan senyawa hidrogen sulfida (H2S) yang pasti ditemui di site rupanya beracun, dan menjadikan senyawa ini sebagai ‘pembunuh tak terlihat’.

Dalam industri migas, gas H2S dikenal dengan sebutan stink damp. Terkadang gas ini ikut menyembur bersamaan dengan gas atau minyak yang dieksploitasi. Gas yang terbentuk dari zat-zat organik yang membusuk ini biasanya juga dapat ditemukan di site panasbumi, pertambangan, industri petrokimia, serta tempat pembuangan dan pengolahan limbah.

Gas H2S menempati urutan kedua, setelah Hidrogen Sianida, sebagai gas beracun apabila dihirup. Kandungan racun gas ini mencapai lima sampai enam kali racun yang terkandung dalam Karbon Monoksida. Dalam jumlah kecil (50-100 ppm/part per million), gas ini sudah dapat dideteksi dengan baunya yang khas seperti telur busuk. Bila terpapar, gas ini dapat membuat mata menjadi perih dan memberi sensasi terbakar pada kulit saat berkeringat. Gangguan pernapasan, pusing, dan batuk pun mungkin terjadi.

Gas ini mampu memanipulasi penghirupnya, sebab pada konsentrasi mendekati 100 ppm gas ini dapat menyebabkan hilangnya kemampuan indera penciuman. Sedangkan pada konsentrasi 300 ppm gas ini tidak lagi berbau, namun dapat menyebabkan penghirupnya pingsan dan bisa berujung pada kematian akibat gagal pernapasan.

Disebutkan, saat seseorang menghirup udara bebas yang tercampur H2S, maka komposisi oksigen yang masuk akan berkurang, akibatnya kinerja otak pun terganggu. Konsentrasi H2S di otak nantinya dapat melumpuhkan saraf indera penciuman dan hilangnya fungsi kontrol otak pada paru-paru. Akibatnya, paru-paru akan melemah dan berhenti bekerja.

Menurut American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH) terdapat nilai batas aman paparan gas H2S, yaitu sekitar 10 ppm. Angka tersebut merupakan konsentrasi rata-rata yang diperkenankan bagi pekerja lapangan untuk pemaparan gas H2S maksimal 8 jam sehari, atau 40 jam per minggu, tanpa mengganggu kesehatan.

Selain berbahaya langsung pada kesehatan, gas H2S juga dapat berbahaya apabila terpapar pada peralatan berbahan dasar metal untuk waktu yang cukup lama. Reaksi gas terhadap bahan metal akan membuat lubang-lubang pada peralatan. Ini dapat menyebabkan kerapuhan, dan berisiko rusak dan patah. Akan berbahaya bila ada pekerja yang sedang berada di lokasi kerusakan. Untuk mengatasinya, diperlukan perawatan rutin pada peralatan yang ada di site.

Untuk pertolongan pertama, bila seseorang terserang gas H2S maka sebaiknya segera dibawa ke tempat dengan udara yang bersih lalu diberi pernapasan buatan. Tindakan ini berguna untuk menambah suplai oksigen ke seluruh tubuh sehingga kinerja otak dan paru-paru dapat kembali normal. Selanjutnya, pasien harus dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.

Mengingat betapa berbahayanya gas ini, sudah menjadi kewajiban bagi setiap Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) untuk taat pada prosedur standar keselamatan pekerja, khususnya saat bekerja di site. Alat perlindungan pernapasan juga harus dipersiapkan. Hal ini penting mengingat kehadiran gas H2S umumnya sangat mendadak dan tingkat konsentrasinya cepat berubah dari tingkat rendah ke tingkat yang membahayakan. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*