Gross Split Belum Berikan Kepastian Investasi

11600
Target Lifting 2018 Diturunkan
Foto: siar.com

indoPetroNews- Masa depan bisnis industri hulu minyak dan gas bumi (migas) agak mengkhawatirkan jika penerapannya dikunci 100% dalam skema Gross Split. Mengapa?

Setiap sistem bisnis memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. “Skema PSC Cost Recovery ada kekurangannya, birokrasinya relatif panjang melalui beberapa PoD untuk sampai ke approval,” kata Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Reforminer Institute pada sejumlah media, Sabtu (16/9/2017) di Jakarta. Sedang untuk skema Gross Split tidak perlu mekanisme administratif seperti model Cost Recovery.

Menurut Komaidi, skema Gross Split ketika telah disetujui/disepakati maka proses awalnya lebih cepat tetapi secara cash flow bermasalah. “Gross Split untuk lapangan-lapangan yang secara cash flow tidak ada masalah atau BIP, tinggal perpanjangan operasional per tahunnya, dan mengkalkulasikan margin dan lain-lain. Itu lebih cocok,” tandasnya. Karena basisnya bukan kepentingan cash flow lagi.

Namun, ungkap Komaidi, untuk lapangan-lapangan baru, yang investasinya besar, yang butuh kembali dulu supaya mereka bisa re-invesment di tempat lain atau untuk operasional tiap tahunnya, cash flow ini sangat penting. Dan mungkin skema Cost Recovery yang cocok, ungkap Komaidi.

Diakuinya, dalam skema Gross Split bidding awalnya masih mengambang. Baru setelah disetujui dan dinyatakan menang, baru ditindaklanjuti dengan diskusi dan split tambahan lainnya. Jamak diketahui, ujar Komaidi, kalau pengusaha itu semakin pasti, resikonya semakin termanage, maka dia akan makin tertarik. “Dengan adanya Gross Split, yang masih bisa tawar-menawar ditengah-tengah itu sebenarnya tidak pasti. Meskipun nanti tetap diberikan atau dijamin keekonomiannya tapi tidak ada suatu kepastian,” katanya. Karena masih ada proses lagi yang harus dilalui.

Kendati demikian, Komaidi tidak menampik bahwa terbitnya Peraturan Menteri (Permen) Nomor 52/2017 sebagai revisi Permen sebelumnya tentang Gross Split, mendapat sambutan positif dari asosiasi pengusaha minyak (IPA). “Ada beberapa split variabel poin yang telah diakomodasi yang keekonomiannya sudah relatif lebih baik dibanding Permen sebelum revisi,” tandasnya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*