Bocoran Pembagian Split Baru Gross Split Versi Revisi

785300
Pengamat Sayangkan Sikap Wamen ESDM Tegur Panitia IPA Convex 2018
Foto : merdeka.com

Bocoran Pembagian Split Baru Gross Split Versi Revisi

indoPetroNews- Setelah menerima masukan dari Kotraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) dan konsultan independen, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merevisi peraturan terkait Gross Split. Hasil revisi telah ditandatangani Menteri Ignasius Jonan dan kini sedang diproses di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM).

Disampaikan oleh Wakil Menteri ESDM, Archandra Tahar, revisi kali ini menambah variabel split agar dapat membuat iklim investasi hulu minyak dan gas bumi (migas) jadi lebih menarik.

Base split tidak berubah. Yang berubah misalnya cumulative production, split-nya bertambah. Kemudian dari variabel kandungan H2S, lokasi lapangan. Progresif split juga kita ubah, sekarang pakai rumus,” kata Archandra di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (30/8/2017) malam.

Di aturan sebelumnya, tambahan bagi hasil (split) dari cumulative production sampai 1 juta barel hanya 5%, sekarang sampai 30 juta barel masih dapat tambahan split 10%. Dulu kontraktor mendapat tambahan split 5% ketika lapangan mulai menghasilkan minyak sampai jumlah minyak yang diproduksi dari lapangan tersebut mencapai 1 juta barel.

Di aturan baru, tambahan split 10% diberikan mulai dari lapangan mulai berproduksi hingga total minyak yang dihasilkan dari lapangan tersebut mencapai 30 juta barel. Dengan begitu, kontraktor bisa lebih cepat balik modal karena pendapatannya di tahap awal pengembangan lapangan meningkat.

Terkait eksplorasi, aturan yang baru memberikan tambahan split bukan hanya untuk pengembangan lapangan yang pertama (Plan of Development 1/PoD1). Pengembangan lapangan kedua (PoD 2) dan seterusnya juga mendapat tambahan split.

“Kalau dulu PoD 1 dapat 5%, PoD selanjutnya tidak ada tambahan split. Bagaimana menggairahkan eksplorasi selanjutnya? PoD 2 dan seterusnya juga dapat tambahan split 3% untuk mendorong eksplorasi di sekitar lapangan yang sudah ada,” kata Archandra.

Adapun tambahan split yang ditawarkan untuk kontraktor yang menggunakan teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery) ditingkatkan menjadi 2 kali lipat. Dari sebelumnya 5% menjadi 10%.

Aturan gross split hasil revisi juga menawarkan split lebih besar untuk pengembangan lapangan dengan kandungan H2S tinggi. “Ternyata lapangan kita banyak H2S-nya, ini cost. Jadi kita kasih insentif lebih banyak,” katanya.

Di aturan baru, split untuk pengembangan ladang-ladang migas onshore di daerah terpencil ditambah. “Kemudian terkait kondisi infrastruktur di lokasi lapangan, kita beri insentif lebih banyak untuk lapangan onshore di daerah terpencil,” ia menerangkan.

Dari komponen progresif split, ada perubahan cara perhitungan. Kini progresif split dihitung dengan menggunakan formula agar lebih proporsional dan tidak langsung berubah drastis ketika ada kenaikan harga minyak.

“Dulu harga minyak di bawah US$ 40/barel dapat 7,5%, US$ 40-55/barel 5%. Kalau harga minyak US$ 39,9/barel dapat 7,5%, begitu US$ 40/barel jadi 5%, beda harga minyak sedikit langsung berkurang 2,5%. Sekarang pakai rumus yang lebih atraktif, lebih proporsional dapat tambahan split-nya, enggak tiba-tiba drop,” katanya.

Selain itu, aturan baru gross split memberi kewenangan kepada Menteri ESDM untuk memberi tambahan bagi hasil kepada kontraktor hingga lebih dari 5% agar suatu lapangan ekonomis untuk dikembangkan. Dalam aturan lama, Menteri ESDM hanya boleh memberi tambahan split paling banyak 5%, kini tak ada batasan lagi.

“Dulu diskresi Menteri ESDM sampai 5%. Sekarang untuk keekonomian lapangan, Menteri ESDM dapat menetapkan insentif, tidak ada batasan 5%,” katanya.

Arcandra mengaku revisi ini telah disampaikan kepada Indonesian Petroleum Association (IPA). “Mereka menyambut baik peraturan baru ini,” pungkasnya. (Gadih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*