Tawaran LNG Singapura Jangan Mengulang Cerita Minyak Murah China Senangol

280400
Rencana Perubahan PP 23/2010 Seperti Operasi Intelijen
Foto: energyworld.com

Tawaran LNG Singapura Jangan Mengulang Cerita Minyak Murah China Senangol

 

indoPetroNews- Rencana impor liquefied natural gas (LNG) dari Singapura menimbulkan respon keras dari berbagai pihak.

“Muncul kesan di publik bahwa Menko (Mentri Koordinator) Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan tidak percaya lagi dengan kemampuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Wamen ESDM serta Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara) akan kemampuannya menyediakan harga gas murah untuk kebutuhan PLN (Perusahaan Listrik Negara) dan industri lainnya,” kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman kepada wartawan, Senin (28/8/2017) di Jakarta.

Padahal pada Rakor (rapat koordinasi) di kantor Menko Perekonomian pada November 2016 yang dihadiri dari Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Pertamina dan Perusahaan Gas Negara (PGN) telah dianalisa dan disimpulkan solusi langkah langkah di hulu dan hilir agar harga gas di hulu lebih murah USD 6 per million british thermal unit (MMBtu). Berbagai skenario telah dibuat untuk kebutuhan 7 industri pupuk, petrokimia, chemical, baja, keramik, kaca dan industri sarung tangan karet sehingga harga gas bisa berdaya saing dengan produk impor, yaitu USD 4 per MMBtu serta dapat menciptakan percepatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pendapat pajak.

Konsekuensinya, lanjut Yusri, adalah mengurangi bagian negara di sektor hulu. Anehnya saat itu tidak ada sedikitpun pembahasan soal harga gas yang pantas untuk kebutuhan pembangkit PLN. “Bisa jadi kedua BUMN yang selama ini ditugaskan oleh pemerintah yaitu Pertamina dan PGN seakan tidak mampu memberikan dukungan penuh kepada PLN untuk pembangkitnya untuk mendapatkan kepastian pasokan gas dengan harga murah,” tuturnya.

Padahal selama ini semua rakyat Indonesia paham bahwa Singapura tidak memiliki sumber migas. Bahkan telah puluhan tahun kebutuhan gas untuk industri dan rumah tangga di Singapura disuplai Indonesia dari lapangan Grissik Sumsel dan Natuna lewat pipa bawah laut.

“Anehnya lagi perusahaan Keppel Offshore and Marine, yang bergerak di bidang pelabuhan, galangan kapal dan ajungan lepas pantai, dan perusahaan tersebut sepengetahuan saya belum pernah punya rekam jejak dalam dunia perdagangan gas dan tidak ada terlibat ikut sebagai participating interest di blok migas di seluruh dunia, serta tidak pernah tercatat juga sebagai mitra rekanan di ISC Pertamina,” ungkap Yusri. Tentu saja ini agak membingungkan sebagian pedagang gas internasional dan nasional.

Menurut Yusri, sikap PLN yang berminat atas tawaran Keppel Offshore and Marine bisa sangat benar7 dengan alasan dapat harga gas murah dan dapat menurunkan biaya produksinya dan akhirnya konsumen diuntungkan dengan harga jual listrik yang lebih murah.

Sebaliknya, imbuhnya, malah ada pertanyaan besar yang belum terjawab sampai saat ini. “Sejak Menteri ESDM Sudirman Said dan Jonan serta Wakilnya dan Direksi Pertamina sudah beberapa kali berkunjung Ke Timur Tengah, Iran, Irak, Saudi Arabia, dan Qatar untuk merintis pembelian gas langsung ke produsennya. Bahkan Menko Kemaritiman belakangan juga berkunjung ke Iran,” ucapnya. Bahkan sangat optimis, Pertamina akan memperoleh 2 blok migas di Iran dalam waktu dekat.

Dia khawatir kedatangan perusahaan Singapura bisa akan mengulang cerita lama, ketika beberapa hari setelah pelantikan Presiden Jokowi dan JK, pada 31 Oktober 2014 dihebohkan oleh Perusahaan China Senangol yang menawarkan minyak mentah murah 25% dari harga rata rata dipasar. Bahkan saat itu Wapres Anggola Manuel Domingus Vicente datang menjumpai Wapres JK dan menyaksikan tanda tangan MOU antara Pertamina dengan Sonangol EP, yang konon kabarnya untuk merealisasikan rencana tersebut.

Tetapi belakangan rencana itu tidak jelas ujungnya. Bahkan terdengar kabar dibalik tawaran harga murah tersebut ternyata motif China Sonangol itu ingin menguasai penuh semua kebutuhan impor minyak mentah dan BBM Pertamina dengan mengkerdilkan fungsi ISC dan Petral. Tapi setahun kemudian kita mendapat kabar terakhir Mr Sam Pa telah ditangkap oleh penegak hukum negara Tiongkok pada 8 Oktober 2015 atas kasus kejahatannya berdasarkan hasil penyidikan terhadap Gubernur provinsi Fujian yang merupakan pimpinan perusahan minyak BUMN China Sinopec atas kasus korupsi.

“Kita berdoa semoga saja proyek LNG murah yang diusung perusahaan Singapura tidak berujung sama dengan cerita minyak mentah murah saat itu,” tandas Yusri. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*