Anjloknya Laba Pertamina Bingungkan Publik

44900
Mempertanyakan PGN sebagai Sub Holding Gas dan Bukan Pertagas
Foto : offshoreindonesia.com

Anjloknya Laba Pertamina Bingungkan Publik

indoPetroNews- Sejatinya peningkatan harga minyak mentah dunia dapat mendongkrak sektor hulu dan bisa memberikan kontribusi laba lebih besar bagi sebuah perusahaan minyak dan gas (Migas) daripada sektor hilir. Namun  yang terjadi pada PT Pertamina (Persero) tidak demikian.

“Dirut Pertamina terkesan hendak membuang badan atas anjloknya laba perusahaan energi plat merah ini di semester 1 tahun 2017,” kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman dalam keterangan persnya kepada wartawan, Senin (21/8/2017) di Jakarta. Pertamina mengalami penurunan laba hingga 25% atau USD 430 juta, atau setara Rp 5,7 triliun (kurs Rp 13.335).

Anjloknya laba Pertamina ini pun telah disampaikan oleh Direktur Utama (Dirut) Pertamina, Elia Masa Manik. Dalam keterangan persnya,  Elia Masa Manik di depan para wartawan pada Rabu (16/8/2017) memaparkan turunnya laba Pertamina di semester 1 tahun 2017 hanya USD 1, 4 miliar. Padahal keuntungan perusahaan di semester 1 tahun 2016 mencapai USD 1, 83 miliar. Angka penurunan laba menembus 25% atau USD 430 juta, atau setara Rp 5,7 triliun  (kurs Rp 13.335).

Menurut Elia Masa Manik, pendapatan perusahaan semester 1 tahun 2017 meningkat 19% yaitu USD 20,5 miliar  dibandingkan pendapatan semester 1 tahun 2016, yang hanya USD 17,2 miliar. Sedang EBITDA Pertamina turun dari USD 4,1 miliar pada semester 1 tahun 2016 menjadi USD 3,16 miliar pada semester 1 pada tahun 2017.  Peningkatan pendapatan ini banyak disumbang oleh penjualan produk BBM non subsidi.

Elia Masa Manik  juga berkilah bahwa anjloknya laba Pertamina karena  meningkatnya harga minyak mentah dunia pada 2017 (rata- rata kenaikan 69 %) dibandingkan harga minyak mentah dunia pada tahun 2016.  Selain itu, kata Elia Masa Manik, faktor tidak naiknya harga jual solar subsidi dan harga Premium penugasan sampai September 2017 dan kondisi lingkungan eksternal serta tren harga minyak dunia terus meningkat.

Menurut Yusri, kesimpulan yang dibangun  Elia Masa Manik agak terlalu pagi dan membingungkan dengan mengemukakan argumen tersebut diatas.

“Sejak awal Januari 2017 sampai saat ini BBM Premium hampir langka disejumlah daerah Indonesia. Untung saja keluaran produk Pertalite dan Dexlite yang harganya tidak jauh beda dengan Premium dan Solar  sudah menyumbang banyak bagi laba perusahaan Pertamina,” ungkap Yusri. Oleh karena itu, lanjut Yusri, argumen Masa Manik bisa benar bagi negara produsen migas, seperti seperti Exxon Mobil, British Petroleum dan Saudi Aramco dan negara negara di Teluk  terpuruk labanya dan banyak melakukan PHK.

“Faktanya berbeda dengan Pertamina. Sejak tahun 2015 dan  2016, saat harga minyak rata rata dibawah USD 40 per barelnya, secara mengejutkan Pertamina bisa menempatkan perolehan labanya diurutan nomor 3 dari perusahaan migas dunia,” tandasnya.

Untuk itu, imbuh Yusri, Elia Masa Manik tidak perlu malu belajar dari mantan Direksi lama yang berkinerja baik dan sangat fantastis berhasil melakukan inovasi-inovasi baru, kebijakan efisiensi melalui program break trough project (BTP)  yang bisa menghemat USD 360 juta setiap tahunnya.

“Bila perlu di antara mereka usulkan saja duduk sebagai  Komisaris Pertamina, ketimbang komisaris yang kinerjanya kurang bermanfaat bagi Pertamina. Bahkan bisa jadi beban saja dan banyak rangkap jabatan,” kata Yusri. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*