Stop Ekspor Gas Alam

304300
Foto:indoPetroNews.com

indoPetroNews.com – Pemerintah diminta untuk tidak lagi mengekspor gas bumi yang sedang diproduksi dari sejumlah blok minyak dan gas bumi (migas). Pasalnya, kebutuhan gas bumi di dalam negeri juga sangat banyak. Demikian diungkapkan  Ketua Umum Serikat Pekerja (SP) PT PLN (SP PLN), Jumadis Abda kepada sejumlah media disela-sela peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) SP PLN ke-18, pada Jumat (18/8/2017) di Jakarta.

Hadir dalam kesempatan tersebut di antaranya Direktur Eksekutif IRRES Marwan Batubara, para pengurus dan mantan pengurus SP PLN serta seluruh anggotanya.

Saat ditanyakan blok migas mana saja yang baru berproduksi, Jumadis menjawab, “Ada Blok Masela, IDD Selat Makassar, dan Blok Natuna Timur.” Ada indikasi  bahwa gas yang dihasilkan akan diekspor lagi. Hanya sedikit prosentasi gas yang akan dijadikan gas pipa untuk kebutuhan rumah tangga. Sementara sebagian besar akan dijadikan Liquified Natural Gas (LNG).

“Kalau dijadikan LNG tentu akan diekspor. Apalagi Blok Masela salah satu operatornya adalah Inpex, Jepang. Takutnya alokasi prioritas untuk negaranya,” katanya.

Karena itu, Jumadis minta agar Presiden Jokowi dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan tidak lagi mengekspor gas bumi ke luar negeri tapi optimalkan untuk memenuhi kebutuhan domestik. “Kita butuh kok,” tegasnya.

Menurut Dia, Indonesia sebenarnya kaya sumber energi murah dan bersih. Namun faktanya Indonesia mengalami krisis energi. “Harga yang dibeli oleh masyarakat masih mahal,” imbuhnya. Karena itu tidak berlebihan bila disebut Indonesia belum berdaulat terhadap sumber energinya sendiri.

Ironisnya, tambah Jumadis, energi kita justru dikonsumsi oleh negara-negara lain. Hampir 50% gas bumi diekspor. Padahal sejatinya dengan sumber kekayaan energi tersebut dapat digunakan untuk membangun bangsa, yaitu energi murah untuk rakyat. “Investasi bisa terdongkrak dan roda ekonomi pun bergerak,” ujarnya.

Dia menyatakan, saat ini kondisinya justru paradok. “Kita masih mendengar ada krisis energi. Bahkan energi kita lebih mahal dari negara-negara yang justru tidak memiliki sumber energi,” tandasnya. Oleh sebab itu, pemerintah seharusnya mendorong agar sumber-sumber energi bersih digunakan untuk domestik. Misalnya gas alam untuk bahan pembangkit listrik.

“Di bawah 25% kita gunakan gas alam sebagai pembangkit listrik. Sedangkan Malaysia sudah 50% gunakan gas alam untuk pembangkit listrik. Thailand 70% gunakan gas alam untuk pembangkit listrik. Singapura, yang tidak miliki sumber-sumber gas alam sudah 95% digunakan untuk pembangkit listrik,” paparnya. Ironisnya, gas alam Singapura didatangkan dari Indonesia, yang dijual murah.

Lebih jauh dia juga menerangkan bahwa gas atau LPG untuk kebutuhan rumah tangga, juga didatangkan dari luar negeri. “Subsidinya sekitar Rp 40 Triliun. Kalau gunakan gas alam untuk sektor rumah tangga maka Rp 40 Triliun bisa dihilangkan,” katanya.

Begitupun untuk transportasi yang selama ini menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM). “Padahal BBM itu impor dari negara lain. Kenapa kita tiru Pakistan yang telah bangun 3300 SPBG, yang kemudian menyebabkan biaya transportasinya murah,” paparnya. Malaysia pun telah membangun SPBG ratusan jumlahnya, sementara Indonesia masih belasan SPBG yang dibangun. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*