Warga Madura Butuh Sosialisasi Industri Hulu Migas

300800
Kejar Lifting 20.000 barel Petronas Optimalkan Blok Ketapang
foto:istimewa

indoPetroNews.com – Pulau Madura banyak dikelilingi sumber minyak dan gas bumi (migas). Namun masyarakat Madura dinilai belum sepenuhnya memahami keberadaan sejumlah industri yang padat modal, risiko, dan teknologi tersebut. Padahal  tidak sedikit perusahaan asing dan nasional beroperasi di sana. Akibatnya sebagian malah sering dimanfaatkan oleh sejumlah elit yang memiliki kepentingan tertentu  di industri hulu migas.

Di beberapa tempat  masyarakat masih  belum banyak tahu keberadaan sejumlah  operator migas. Untuk mendekatkan industri hulu migas dengan warga sekitar, Center for Energy and Strategic Resources Indonesia (CESRI) bekerjasama dengan Pusat Studi Komunikasi Publik (Puskakom) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) bertandang ke sejumlah stakeholder (pemangku kepentingan), di antaranya Radar Madura,koran lokal yang cukup eksis di sana, perguruan tinggi dan beberapa komunitas. Kunjungan non formal ini dilakukan untuk menjalin kemitraan dan sinergi untuk menyosialisasikan keberadaan perusahaan migas di Pulau Garam tersebut.

“Edukasi kepada publik sangat penting mengingat peran perusahaan migas turut memberi andil pada peningkatan ekonomi nasional dan tingkat kesejahteraan warga sekitar operasi,” kata Kepala CESRI, Kusairi kepada indopetronews.com Rabu (16/8/2017) disela-sela kunjungannya ke kantor Radar Madura di Bangkalan, Madura Jawa Timur.

Menurutnya, support masyarakat sekitar sangat membantu kelancaran operasi dan produksi migas. “Karena itu edukasi pada masyarakat melalui media dirasa cukup ampuh dan efektif. Apalagi media lokal cakupan pembacanya sangat luas,” tandasnya.

Hal senada juga diamini Sekretaris Puskakom UTM, Imam Sofyan. Pihaknya, ungkap Imam, bersama CESRI telah menyusun penelitian tentang persepsi masyarakat atau publik terhadap perusahaan migas di Madura dan Gresik, Jawa Timur. “Kajian akademis tentu diperlukan agar mendapatkan hasil yang seobyektif mungkin,” ujarnya. Penelitian bersifat kuantitatif dan kualitatif ini mencakup 3 wilayah kabupaten, yaitu Gresik, Sampang dan Bangkalan. Sedangkan respondennya tersebar di 28 desa di tiga kabupaten tersebut.

Terkait pengetahuan dan persepsi publik Madura terhadap perusahaan kontraktor migas relatif kurang. “Memang masyarakat hanya tahu satu perusahaan migas. Karena dia yang paling gencar turun ke publik,” kata Zuhud, Pemimpin Redaksi Radar Madura. Oleh karena itu, pihaknya, lanjut Zuhud, mendukung untuk menyosialisasikan perusahaan migas dan hasil penelitian dari CESRI dan Puskakom.

Dia juga menambahkan, dalam 2 – 3 tahun terakhir gangguan masyarakat pada perusahaan migas relatif aman bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Ini keberhasilan  SKK Migas turun dan memberikan sosialisasi ke masyarakat perihal pentingnya keberadaan perusahaan operator migas,” ujarnya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*