Inilah Biang Kerok Penyebab Tarif Listrik Naik

413600
Inilah Biang Kerok Penyebab Tarif Listrik Naik
Foto : m.tempo.co

Inilah Biang Kerok Penyebab Tarif  Listrik Naik

 

indoPetroNews- Menurut kajian Litbang Serikat Pekerja PT PLN (SP PLN) terdapat tiga indikator yang menyebabkan Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik menjadi lebih mahal sehingga berimbas pada masyarakat pengguna. Apa saja tiga indikator tersebut?

“Pertama,  energi primer bauran energi dan harga energi,” kata Ketua Umum SP PLN, Jumadis Abda kepada sejumlah media disela-sela seminar bertajuk National Energy Summit pada Senin (7/8/2017) di Jakarta. Bauran energi pembangkit listrik PLN belum efisien.

Pasalnya, selama ini pembangkit listriknya masih menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM). “Ada 8 prosen BBM yang digunakan. Harganya pun mahal,” katanya. Oleh sebab itu, pihaknya mendorong, seperti Malaysia, Thailand dan Singapura yang telah menggunakan gas alam dalam pembangkit listriknya.

Disamping itu, lanjut Jumadis, harga gas alam di sana juga lebih murah. Di Malaysia hampir 50% telah menggunakan gas alam sebagai pembangkit listrik, sedangkan Indonesia baru gunakan gas alam sekitar 25%. “Harga gas di Malaysia sekitar 4,6 USD per mmbtu. Sedangkan di PLN hampir 2 kali lipat harganya. Kalau kita rupiahkan bisa in efisiensinya sekitar 25 triliun,” paparnya.

Dia juga menyatakan, bila harga gas alam dapat diturunkan oleh pemerintah dan seluruh stakeholders di dalam negeri bisa berperan, misalnya harga gas alam bisa ditekan hingga 5 USD per mmbtu untuk pembangkit PLN, maka BUMN ini dapat menghemat sekitar 25 triliun. “Jadi enggak perlu lagi menaikkan tarif listrik. Cukup BPP nya saja yang diturunkan.

Indikator kedua adalah pola operasi yang seharusnya mencari yang paling murah yang dioperasikan. Tetapi, kata Jumadis, kondisi kelistrikan saat ini tidak demikian. “Apalagi dengan kehadiran listrik swasta. Karena listrik swasta gunakan klausul take or pay, ambil tidak ambil harus dibayar. Inilah yang menyebabkan tarif listrik kita jadi mahal,” tegas Jumadis.

Walaupun ada pembangkit listrik yang lebih murah biaya operasinya tetapi karena ada pembangkit listrik swasta maka listrik swasta yang lebih dulu dioperasikan. Pembangkit PLN akhirnya diam.

Indikator ketiga adalah pemeliharaan. “Dalam program 10.000 MW, PLN banyak membangun pembangkit China. Ternyata pembangkit Cina tidak andal dan sering rusak,” tandas Jumadis. Kemampuan operasinya pun, lanjutnya, tidak seperti yang diharapkan. Misalnya kita bangun 100 MW tetapi hanya mampu produksi sekitar 60 – 70 MW. “Ini merugikan operasi kelistrikan dan membebani PLN dalam pemeliharaannya,” ujar Jumadis. Selain itu, hal ini pun juga yang menyebabkan BPP nya naik.

Lebih jauh Jumadis menyatakan bahwa pihaknya sangat concern untuk menghadirkan listrik yang lebih murah dan tidak memberatkan masyarakat. Sebab, saat ini tarif listrik untuk daya 900 VA naik cukup signifikan hingga 100%. “Kita cari solusi agar BPP bisa lebih rendah sehingga tarif kita tidak perlu naik dan bisa turun,” tandasnya.

Di Malaysia, untuk daya 900 VA atau 1300 VA tarifnya lebih murah, yaitu Rp 650 per kWh. “Angkanya 21,8 sen ringgit. Mereka juga tidak mengenal 450 VA, 900 VA, dan 1300 VA. Harganya berdasarkan pemakaian,” terangnya. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*