Kebijakan Impor BBM Berbahaya bagi Indonesia

30900
Target Lifting 2018 Diturunkan
Foto: siar.com

Kebijakan Impor BBM Berbahaya bagi Indonesia

 

indoPetroNews- Menelisik pada Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) terlihat bahwa orientasi pemerintah adalah impor. Apa dampak dari kebijakan ini?

“Ini sangat berbahaya bagi makro ekonomi Indonesia karena Indonesia sangat tergantung pada bahan baku impor yang berdampak pada depresiasi rupiah,” kata Khomaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Reforminer Institute dalam satu diskusi pada Rabu (14/6/2017) di Jakarta.

Melihat posisi Indonesia yang berada di dalam Asia-Pasifik, lanjut Komaidi, konsumsi migas sangat tinggi namun produksi dan cadangan energi rendah. Oleh karena itu, lanjut Komaidi, kelak akan ada perebutan energi yang mengakibatkan melemahnya posisi Indonesia dalam perdagangan internasional.

“Solusi yang dapat dilakukan adalah memaksimalkan potensi yang ada di Indonesia, mengupayakan kegiatan Enhanced Oil Recovery (EOR) atau pengurasan sumur tahap lanjut. secara efektif dan efisien daripada harus mengimpor dari negara lain,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I.G.N Wiratmaja Puja mengatakan penerapan teknologi EOR ini mulai tahun depan dan diharapkan bisa digunakan seluruh kegiatan operasional migas pada 2019. Jika tidak maka ada kekhawatiran anjloknya produksi.

Apalagi menurut Data Kementerian ESDM, jika tidak ada upaya apa pun produksi minyak bisa turun mencapai 500.000 barel per hari (bph) pada 2020. Saat ini produksi minyak ada di level 700.000 sampai 800.000 bph. ”Makanya harus ada upaya luar biasa,” kata Wiratmaja.

Masalahnya, kata Wiratmaja, teknologi EOR ini tidak murah. Penggunaan teknologi ini malah akan menjadi beban negara karena masuk dalam penggantian biaya operasional (cost recovery). Makanya saat ini pemerintah masih membahas secara intensif terkait hal ini, sebelum diimplementasikan secara menyeluruh. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*