FSPPB dan Direksi Pertamina Kukuhkan Tujuan Bersama

49000
FSPPB dan Direksi Pertamina Kukuhkan Tujuan Bersama
istimewa

FSPPB dan Direksi Pertamina Kukuhkan Tujuan Bersama

 

indoPetroNews- Setelah melalui proses dan dinamika yang dinamis, akhirnya penandatanganan PKB (Perjanjian Kerja Bersama) antara Wakil Pekerja Pertamina (FSPPB – Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu) dengan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) dapat direalisasikan. Bertempat di Lantai M Gedung Utama Kantor Pusat PT Pertamina (Persero), pada Rabu siang (24/5/2017) menjadi peristiwa bersejarah bagi Pekerja Pertamina (Persero) karena pada saat tersebut telah dilakukan penandatanganan PKB. Dengan telah ditandatanganinya PKB tersebut maka PKB merupakan aturan tertinggi yang mengikat antara kedua belah pihak yaitu pekerja dan perusahaan.

Kegiatan yang diikuti oleh 19 Serikat Pekerja konstituen FSPPB ini dan yang direlay secara live ke seluruh UO/AP dalam sambutannya Direktur Utama (Dirut) Pertamina mengatakan bahwa PKB bukan semata-mata kewajiban normatif, namun merupakan artikulasi dari komitmen bersama, yaitu komitmen untuk menunaikan hak dan kewajiban, komitmen untuk mewujudkan hubungan industrial yang harmonis, dinamis dan berkeadilan seperti yang diamanahkan oleh UU Ketenagakerjaan RepubIik Indonesia (RI).

Massa Manik mengajak seluruh pekerja maupun direksi Pertamina untuk menyadari bahwa PKB bukan hanya lembaran-lembaran ketentuan, pasal, ayat, namun juga merupakan kaedah dan spirit yang harus benar-benar dipahami dan dilaksanakan sesuai peran dan tanggungjawab kita semua.

Untuk melaksanakan kaedah-kaedah yang ada di PKB tersebut, Massa Manik mengingatkan kembali bahwa di dalam diri kita telah tertanam suatu itikad baik atau good faith, yaitu rasa saling percaya yang tulus untuk menjalankan peran masing-masing tanpa ada niat untuk melanggar komitmen tersebut.

Dilanjutkannya bahwa PKB tidak mungkin mengatur segi-segi detail aktifitas dalam menjalankan visi misi Pertamina, terlebih dalam menghadapi salah satu tantangan di dunia bisnis saat ini adalah Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity (VUCA) world,  yang merupakan gambaran situasi di dunia bisnis di masa kini.

Disamping itu apresiasi diberikan oleh Dirut kepada FSPPB yang dapat bekerja sama dengan perusahaan secara harmonis, dinamis sehingga dapat menghindari deadlock yang membuat PKB tidak bisa diselesaikan.

Presiden FSPPB Noviandri dalam sambutannya mengatakan bahwa PKB merupakan bentuk kemitraan yang hakiki yang dibangun oleh pekerja dalam wadah serikat pekerja (dalam hal ini FSPPB) dengan perusahaan.

“PKB merupakan bentuk nyata harmonisnya hubungan industrial bilamana apa yang sudah disepakati dijalankan dengan semangat kemitraan dengan tujuan kesejahteraan pekerja dan kelangsungan bisnis perusahaan,” kata Noviandri.

Pada saat ini, lanjut Noviandri, kita telah menyelesaikan perundingan PKB VI dan sesuai dengan tema di atas, adalah suatu langkah dan harapan besar oleh FSPPB dan perusahaan karena dengan re-engineering nantinya kita sepakat bahwa apa yang ada di PKB I –V dievaluasi ulang sehingga harapan dan cita-cita kita semua bisa terwujud untuk menjadi perusahaan kelas dunia yang kadang kita sedih dan tidak paham kemana ujungnya. “Yang terpenting adalah bagaimana pekerja bahu membahu bersama direksi membawa Pertamina dapat berkontribusi lebih besar kepada masyarakat bangsa dan negara,” tegasnya.

Lebih lanjut Noviandri mengatakan dalam mewujudkan PKB VI mesti disadari hal ini bukanlah pekerjaan mudah. “Membutuhkan 3 episode penyelesaian perundingan karena banyaknya materi yang dibahas dan tentunya membutuhkan waktu untuk saling memberikan pemahaman kepada para pihak. Dan Alhamdulillah syukur berkat semangat 1 Tim 1 Tujuan yang menjadi moto perundingan, semua dapat diselesaikan,” paparnya.

FSPPB mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung sehingga perundingan ini dapat diselesaikan. “Apresiasi khusus disampaikan kepada perusahaan yang telah banyak mendorong sehingga pada pasal-pasal PKB telah selaras dengan amanah UU seperti bagaimana dalam penyelasaian hubungan industrial telah dilakukan terobosan besar bahwa tidak perlu dilakukan pemutusan hubungan kerja kepada pekerja yang bersalah tetapi dengan upaya-upaya pembinaan, tentunya untuk hal-hal yang masih bisa ditolerir,” tandasnya.

Dalam menutup sambutannya, Noviandri menyatakan, salah satu yang menjadi kesepakatan dalam perjanjian ini adalah tentang usia pensiun pekerja. Perlu ditegaskan agar perusahaan segera mengeluarkan instruksi agar hal ini dapat diimplementasikan sesuai dengan isi PKB (disepakati paling lama 1 bulan setelah PKB ini ditandatangani) supaya tidak menimbulkan keresahan pada pekerja,” katanya.

Selanjutnya dilakukan penandatanganan PKB yang disaksikan langsung oleh Menteri Tenaga Kerja, M. Hanif Dakhiri.

M. Hanif Dakhiri mengatakan bahwa PKB merupakan instrumen utama dalam konteks hubungan industrial untuk memastikan agar terjadi suasana yang dialogis dan harmonis diantara pihak perusahaan dengan serikat pekerja.

“Perusahaan ibarat rumah bersama, maka semua pihak yang ada di dalamnya baik manajemen dan pekerja/serikat pekerja memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan perusahaan tetap eksis, bisa produktif dan mejadi tumpuan hidup dari semua,” katanya.

Menurut Menteri Hanif Dakhiri, dialog antara perusahaan dan pekerja untuk mencari solusi dan melihat semua persoalan untuk kepentingan bersama (tidak ada persoalan yang tidak bisa dipecahkan) perlu terus dipupuk dan dikembangkan dan menjadikannya sebagai instrument yang mendorong produktifitas perusahaan dan sekaligus peningkatan kesejahteraan pekerja.

Selanjutnya Menteri Tenaga Kerja menyatakan bahwa persaingan di dunia bisnis membutuhkan support dari seluruh pekerja untuk membuat Pertamina berkelas dunia. “Dengan momentum penandatangan PKB Pertamina sudah menumbuhkan tradisi hubungan industrial yang baik dan dinamis,” tegas Menteri Tenaga Kerja. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*