Banyak Profesional Migas Banting Stir Akibat Lesunya Bisnis Migas

80900
Banyak Profesional Migas Banting Stir Akibat Lesunya Bisnis Migas
Foto : trainingyogyakarta.com

Banyak Profesional Migas Banting Stir Akibat Lesunya Bisnis Migas

 

indoPetroNews- Belum bergairahnya proses bisnis hulu minyak dan gas bumi (migas) akibat fluktuasi harga minyak di pasar dunia ternyata6 berimbas pada dunia kerja. Tidak sedikit profesional migas yang beralih haluan. Benarkah dan ke sektor mana saja?

Perpindahan profesi kalangan prefesional migas tersebut diamini oleh Ketua Ikatan Ahli Teknik Perminyakan (IATMI), Tutuka Ariadji. Dia mengakui banyak tenaga profesional di sektor migas yang beralih profesi seiring berkurangnya kegiatan investasi. Banyak di antara mereka yang kini bekerja di sektor lain, seperti perbankan, asuransi, atau lembaga profesi yang tidak digaji.

“Karyawan yang berhenti angkanya berbeda-beda di setiap perusahaan, ada yang 10 persen atau lebih dari itu,” kata Tutuka, Jumat (19/5/2017) di Jakarta.

Situasi ini, lanjut Tutuka, juga berimbas kepada para sarjana lulusan di bidang yang terkait dengan industri migas, seperti teknik perminyakan, teknik geofisika, teknik geologi, dan teknik pertambangan. Minimnya ketersediaan lapangan kerja di sektor ini membuat masa tunggu untuk mendapatkan pekerjaan menjadi lebih lama.

Jika sebelumnya waktu tunggu lulusan hanya beberapa bulan, sekarang perlu waktu 1-2 tahun untuk mendapatkan pekerjaan. “Saat ini 30 persen dari lulusan universitas masih menunggu untuk mendapatkan pekerjaan mereka,” ujarnya.

Untuk itu, kata Tutuka, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memperluas bidang studi teknik perminyakan menjadi studi energi. Di masa depan, universitas perlu mengajarkan pengelolaan dan pemanfaatan energi di luar migas kepada mahasiswanya.

Sementara itu, Rusalida Raguwanti, Ketua Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), mengatakan tingginya harga minyak yang terjadi sebelum 2014 telah meningkatkan jumlah universitas yang membuka program studi ilmu kebumian. Jumlahnya kini mencapai 31 universitas, dengan jumlah mahasiswa baru sebesar 700-800 per tahunnya.

Turunnya kegiatan investasi di sektor migas telah berdampak langsung terhadap masa depan lulusan studi geofisika ini. Survei yang dilakukan HAGI mengenai lapangan pekerjaan yang diminati mahasiswa, sebanyak 50 persen memperlihatkan keinginan mereka untuk bekerja di sektor migas.

Selain itu, mahasiswa juga menunjukkan ketertarikan terhadap profesi peneliti. Ini sekaligus memperlihatkan bahwa profesi peneliti dapat menjadi jalan keluar untuk menjawab dampak turunnya investasi migas bagi pembukaan lapangan kerja baru.

Lebih lanjut Raguwanti menambahkan, ada sebagian anggota HAGI yang beralih profesi. Sampai saat ini memang belum ada info lengkap peralihan profesi tersebut, tapi ada beberapa yang beralih menjadi konsultan sesuai keahlian mereka. Namun, ada pula beberapa yang alih profesi lain seperti berbisnis online untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masing-masing. “Ini harusnya menjadi perhatian karena keahlian mereka tidak lagi bisa dioptimalkan,” ujar dia.

Dia berharap pemerintah dapat mendorong kegiatan eksplorasi. Selain itu, kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan mampu di Tanah Air juga harus distandardisasi melalui sertifikasi di tengah kemungkinan maraknya pemakaian pekerja asing maupun pekerja lokal karena tuntutan efisiensi perusahaan.

“Kami sangat berharap akan ada kolaborasi studi maupun riset dengan para pelaku usaha migas maupun pemangku kepentingan lainnya di industri ini,” tutur dia. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*