BATAN Kembangkan Teknologi Kesehatan Berbasis Nuklir

56600
BATAN Kembangkan Teknologi Kesehatan Berbasis Nuklir
Foto : detik.com

BATAN Kembangkan Teknologi Kesehatan Berbasis Nuklir

 

indoPetroNews- Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) tidak hanya memproduksi energi listrik berbasis nuklir tetapi  menghasilkan pula teknologi untuk kesehatan. Apa saja jenis teknologi yang telah dikembangkan lembaga pemerintah ini?

Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) BATAN merupakan satu-satunya lembaga pemerintah di lndonesia yang diberi kewenangan untuk mengembangkan dan menyediakan produk-produk radiofarmaka.

“Untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut, PTRR sudah mendapatkan sertifikasi Sistem Mutu Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan POM. Bekerja sama dengan PT. Kimia Farma, PTRR telah menghasilkan produk radiofarmaka yang dapat digunakan untuk kebutuhan diagnosis dan terapi medis,” kata Kepala Bidang Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR), Rohadi Awaludin kepada sejumlah media, Jumat (28/4/2017) di komplek Puspitek, Serpong Tangerang Selatan Banten.

Produk Litbang PTRR  yang telah dikembangkan diantaranya adalah; Pertama, MIBI (methoxyisobutylisonitrile). Produk teknologi ini berfungsi untuk diagnosis fungsi jantung. Teknologi ini digunakan untuk mendeteksi penyakit arteri koroner dan mengevaluasi fungsi myocardial. Kedua, Kit MDP (methylene diphosphonate). Produk teknologi ini untuk mendiagnosis tulang.

Ketiga, DTPA. Produk teknologi ini untuk diagnosis fungsi ginjal dengan melakukan pencitraan pada ginjal untuk menilai perfusi ginjal. Keempat, Radiofarmaka Senyawa Bertanda 153 Sm-EDTMP. Produk teknologi ini digunakan untuk terapi paliatif pada penderita kanker yang metastasis. Kelima, Radiofarmaka Senyawa Bertanda 131 I-MIBG. Produk teknologi ini berfungsi untuk diagnosis dan terapi pada kanker NeurobIastoma (sistem saraf anak-anak).

Menurut Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, teknologi nuklir untuk kesehatan merupakan sesuatu yang unik dari sudut pandang persepsi publik. Dalam arti, ketika sebagian masyarakat takut terhadap pemanfaatan nuklir untuk energi, pengawetan makanan, atau aplikasi lainnya, namun dalam bidang terapi dan diagnosis penyakit, teknologi nuklir jauh lebih mudah diterima.

Ironinya adalah, lanjut Djarot, tidak banyak rumah sakit di Indonesia yang mempunyai kemampuan menggunakan teknologi nuklir untuk kesehatan, dibanding jumlah penduduk yang luar biasa besar.

”Mungkin kita sering mendengar bahwa sebagian masyarakat mampu justru pergi ke Rumah Sakit di luar negeri untuk pengobatan yang sejatinya bangsa kita sendiri bisa menanganinya. BATAN tidak menawarkan suatu teknologi baru dalam kesehatan, karena produksi radioisotop dan radiofarmaka sudah dimulai beberapa dekade lalu. Tapi lembaga litbang nuklir, BATAN tidak akan pernah berhenti meneriakkan dan mempromosikan bahwa Indonesia berpotensi mandiri dalam teknologi nuklir untuk kesehatan, khususnya produksi radioisotop dan radiofarmaka,” tegas Djarot. Saat ini terdapat belasan Rumah Sakit yang telah memanfaatkan teknologi nuklir produk Litbang PTRR. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*