Ide Holding Migas Tidak Inovatif

51800
Ide Holding Migas Tidak Inovatif
istimewa

Ide Holding Migas Tidak Inovatif

 

indoPetroNews- Gagasan holding minyak dan gas bumi (migas) yang akan menggabungkan PT Pertamina (Persero) dengan PT PGN dianggap tidak inovatif. Apa alasannya?

“Ide penggabungan itu bukan sesuatu yang  inovatif. Itu hanya teori dagang saja, bikin corporation,” kata Ketua Komite Tetap Perdagangan Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Ricky Sutanto periode 2015-2020 kepada indoPetroNews.com Rabu (12/4/2017) di Jakarta. Seperti diketahui, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno merancang pembentukan holding migas, tetapi hingga kini belum ada wujud konkritnya.

Saat ditanyakan ide yang inovatif, Ricky menyatakan ,”Yang inovatif adalah membangun EBT (Energi Baru Terbarukan). Apalagi cadangan energi berbasis fosil ini sudah menipis dan akan habis.” Padahal Indonesia memiliki 17.000 pulau dengan potensi berbagai tanaman yang bisa dijadikan sebagai bahan dasar bio ethanol dan bio diesel.

“Bila 17.000 pulau tersebut dimaksimalkan  pemanfaatannya untuk pengembangan tanaman yang bisa dikonversi jadi bio ethanol dan bio diesel maka hasilnya bisa diekspor,” tandas Ricky. Indonesia pun akan jadi pengekspor EBT terbesar di dunia.

Secara geografis dan cuaca/iklimnya pun negeri kita, kata Ricky, sudah memenuhi syarat. Namun perlu pula diimbangi dengan tekad dan kuat dari pemerintah. Sebagai langkah awal, ia mengusulkan pembentukan Economic Development Board (EDB) atau Badan Pengembangan Ekonomi Nasional. EDB inilah yang akan menjadi motor penggerak pengembangan EBT.

Dia menganalisa bahwa selama ini yang menangani EBT diserahkan pada Dirjen EBTKE dibawah Kementerian ESDM. “Apakah seorang Dirjen mampu mengkoordinasikan Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup atau Menteri Perindustrian,” tanya Ricky. Tentu saja, jawab Ricky, tidak akan mampu.

EDB ini menjadi pembantu Presiden. “Kerjanya selama 24 jam untuk mengembangkan EBT dan ekonomi Indonesia. Dan hasil kerjanya pasti lain,” tegas Ricky, meyakinkan.

Menurutnya, harus diakui bahwa Indonesia masih belum menjadi negara maju. “Australia, Malaysia, Tiongkok dan Singapura sudah lebih dulu membentuk EDB,” papar Ricky. Karena itu, sekarang saatnya pemerintah membentuk EDB. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*