Industri Hulu Migas Sangat Terbuka Bagi Perempuan

Industri Hulu Migas Sangat Terbuka Bagi Perempua
Foto : phewmo

Industri Hulu Migas Sangat Terbuka Bagi Perempuan

 

indoPetroNews- Pekerjaan bidang hulu minyak dan gas bumi (migas) selama ini identik dengan dunia laki-laki. Pasalnya,  industri jenis ini banyak berkaitan dengan alat-alat berat yang tidak saja membutuhkan ekstra kekuatan fisik tetapi juga menguras tenaga. Sementara kaum perempuan terlanjur dipersepsikan sebagai kaum yang lebih cocok dengan jenis pekerjaan yang tidak menuntut pengurasan kekuatan fisik.

Namun mitos tersebut saat ini luruh seiring laju perkembangan zaman dan majunya dunia pendidikan yang berkembang pesat. Dunia kerja di hulu migas pun dirambah kaum perempuan. Bahkan top leader perusahaan migas, PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) kini dinahkodai oleh seorang perempuan, yaitu Sri Budiyani,  President/General Manager PHE WMO.

Menurut Budiyani, peluang bagi perempuan yang bekerja di bisnis hulu minyak dan gas bumi (migas) sangat terbuka lebar. “Dari pengalaman yang saya peroleh perempuan dapat mengerjakan hal yang sama sebagaimana yang dapat dikerjakan laki laki,” kata Budiyani kepada indopetronews.com Senin malam (10/4/2017)  di Jakarta. Jenis pekerjaan yang dimaksud
adalah operasi lapangan (survei maupun pemboran; penyelesaian project-project EPCI, bahkan hingga sebagai pengambil keputusan di top manajemen).

Bagi Budiyani, semua jenis bidang pekerjaan sejatinya dapat dilakukan oleh perempuan. “Hal terpenting untuk mendukung kesuksesan bekerja adalah kompetensi, niat dan keinginan untuk berkembang. Perempuan bekerja di hulu migas pun seperti saya tidak menjadi masalah,” katanya.

Budiyani tidak menampik bahwa pada sebagian kalangan masih terdapat pemikiran yang mendikotomikan jenis pekerjaan tertentu antara perempuan dan laki-laki (bias gender). Agar tidak terjadi tindakan diskriminasi maka ia memacu diri untuk mampu melakukan hal-hal pekerjaan yang dilakukan oleh kaum laki-laki.

Walaupun ia bekerja di lingkungan yang mayoritas kaum laki-laki tetapi dirinya tidak ingin diperlakukan berbeda dengan para pekerja yang lain. “Justru kita ingin melengkapi sebagai sebuah team work yang saling melengkapi di berbagai aspek seperti, perencanaan, operasi lapangan bahkan di dalam pengambilan keputusan,” tegas Budiyani.

Saat ditanyakan apa keuntungan jika ada pekerja perempuan di sektor hulu migas, Budiyani menjawab, “Adanya suasana kecermatan dan hati-hati mengingat risk yang cukup tinggi di lapangan”. Hal ini sesuai dengan kodratnya, perempuan mempunyai intuisi yang lebih peka dan detail dibandingkan kaum laki laki.

Walaupun telah memegang jabatan orang nomor satu di lingkungan PHE WMO, namun Budiyani tidak melupakan tugas utamanya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Katanya,
“Kebetulan suami saya juga seorang geologist yang bekerja pada bidang yang sama sehingga tidak memiliki gap dalam setiap diskusi yang terjadi di rumah. Saya pun bersyukur anak anak memahami pekerjaan orang tuanya sehingga mereka cukup mandiri di dalam kehidupan sehari hari namun kami selalu memiliki waktu bersama keluarga terutama malam hari baik untuk makan malam dan doa bersama sebelum tidur”. Disamping itu, dia dan sang suami tercinta secara khusus mendedikasikan hari Sabtu dan Minggu bersama anak anak dan semua berjalan baik.

Terkait dengan peringatan Hari Kartini, 21 April mendatang, perempuan yang sangat menghormati profesionalisme ini menyatakan, “Bagi saya, Ibu Kartini telah memberikan inspirasi sebagai panutan yang mendobrak kemampanan laki-laki untuk berani memberikan hal yang sama kepada setiap perempuan Indonesia untuk maju dan berkembang dan mampu memberikan sumbangsih yang nyata dalam mengisi pembangunan bangsa Indonesia tanpa harus dirisaukan situasi diskriminasi dan ketidakadilan bagi perempuan”. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*