Inilah Tantangan Industri Hulu Migas Versi IPA

53000
Kontraktor Hulu Migas Wajib Manfaatkan Barang, Jasa & Teknologi Lokal
Foto : trainingyogyakarta.com

Inilah Tantangan Industri Hulu Migas Versi IPA

 

indoPetroNews- Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) saat ini, khususnya di dalam negeri, mendapat tantangan hebat. Apa saja tantangannya?

“Produksi minyak (and gas) terus menurun, sedang permintaan energi tumbuh pesat. Di sisi lain, penemuan cadangan migas tidak cukup untuk menutupi produksi tahunan,” kata Direktur Indonesian Petroleum Association (IPA) Ronald Gunawan, dalam satu diskusi pada Senin (3/4/2017) di Jakarta. Prospek eksplorasi yang tersisa berada di kawasan Indonesia Timur, offshore (shallow and deepwater), frontier/remote area, dan sebagian mengandung CO2 yang tinggi

Dalam situasi demikian, kata Ronald, pihak perusahaan migas membutuhkan modal besar, resiko lebih tinggi, teknologi tinggi dan keahlian SDM tinggi. “EOR belum dimulai seperti yang diharapkan,” imbuhnya.

Tantangan lainnya, ungkap Ronald, pemerintah tengah memberlakukan sistem efisiensi birokrasi. “Saat ini jangka waktu dari penemuan eksplorasi sampai produksi pertama perlu 8 – 10 tahun,” ujar Ronald, seraya memberikan contoh, lapangan Senoro (15 thn), Tangguh (12 thn). Karena itu, pihak pelaku industri membutuhkan stabilitas kebijakan.

Ronald mengungkapkan sejak 1970-an, waktu yang dihabiskan untuk berinvestasi di hulu migas cenderung lebih panjang.

Pada era itu, katanya, hanya membutuhkan waktu selama lima tahun dari waktu eksplorasi hingga lapangan menghasilkan minyak dan gas. Di samping itu, panjangnya waktu tidak diimbangi dengan masa kontrak kerja sama.

Masa kontrak kerja sama, katanya, hanya ditetapkan 30 tahun. Alhasil, waktu untuk memonetisasi lebih terbatas. Terlebih, perpanjangan kontrak pun harus menanti hingga dua tahun untuk mendapat persetujuan dari pemerintah. “Time to production bukan menurun justru bertambah,” tegasnya.

Disamping itu, dia juga mengutarakan bahwa pihak pelaku bisnis migas membutuhkan Iklim investasi yang stabil dan kondusif. “Ada perampingan dan penyederhanaan birokrasi,” katanya.

Hal lain yang juga dibutuhkan adalah penerapan prinsip Clarity, Consistency and Certainty dalam peraturan dan menjaga Contract Sanctity.

“Pelaku bisnis migas juga memerlukan insentif fiskal untuk kegiatan eksplorasi dan pengembangan. Oleh sebab itu, diperlukan kebijakan pemerintah yang juga mendukung investor,” tandas Ronald sembari menambahkan pihaknya berharap pemerintah mensupport tersedianya infrastruktur energi dan pendukung yang memadai. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*