Hasil Penelitian Wood Mackenzie Hancurkan Tata Kelola Migas Nasional

Hasil Penelitian Wood Mackenzie Hancurkan Tata Kelola Migas Nasional
Foto :subseaworldnews.com

Hasil Penelitian Wood Mackenzie Hancurkan Tata Kelola Migas  Nasional

 

indoPetroNews- Permintaan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan kepada Wood Mackenzie, lembaga riset energi internasional, agar memperbaiki hasil penelitiannya yang mengatakan bahwa skema kontrak bagi hasil produksi (Production Sharing Contract/PSC) Gross Split justru membuat seret investasi hulu minyak dan gas bumi (migas) mendapat kritikan tajam dari berbagai kalangan.

“Ini ibaratnya seperti ‘arang habis besi binasa’ terlalu percaya atas kajian lembaga asing Wood Mackenszie,” kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman kepada indoPetroNews.com Senin (28/3/2017) di Jakarta. Padahal tidak sedikit uang sudah digelontorkan untuk membayar mereka.

Ironisnya, lanjut Yusri, hasilnya malah menghancurkan tata kelola migas nasional. Indikasi kehancurannya terlihat dari kegagalan penawaran tender Wilayah Kerja (WK) migas pada 2016. “Akibat gagalnya proses tender WK pada tahun 2016 akan dirasakan akibatnya nanti 5 sampai dengan 6 tahun mendatang jika tidak ada penambahan produksi. Biasanya sejak mulai tender suatu wilayah kerja sampai dengan bisa berproduksi secara komersial dibutuhkan setidaknya 6 sampai dengan 7 tahun,” katanya.

Lebih jauh Yusri menengarai bahwa pihaknya telah mengingatkan pada medio Desember 2016 supaya Menteri ESDM tidak gegabah memutuskan sesuatu yang berdampak mengancam produksi nasional migas Tanah Air. “Seharusnya ancaman penerimaan negara dengan kontrak PSC skema cost recovery adalah menyisir dugaan praktek mark up yang berkongkalikong antara Kontraktor KKS dengan oknum-oknum di SKK Migas dan Ditjen Migas,” tegasnya.

Terkait dengan hasil penelitian Wood Mackenzie, Menteri Jonan mengakui bahwa instansinya telah mendengarkan paparan langsung dari Wood Mackenzie beberapa waktu lalu, terkait beberapa variabel penelitian yang belum dimasukkan di dalamnya sehingga hasilnya terlihat rancu.

“Kemarin ada studi dari Wood Mackenzie bahwa Gross Split tak akan membuat Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) tertarik berinvestasi. Sudah ada diskusi antara Wakil Menteri dan Wood Mackenzie bahwa mereka sepakat untuk merevisi hasil penelitian tersebut,” kata Jonan, akhir pekan lalu.

Jonan menuturkan, Wood Mackenzie belum begitu memahami bahwa Gross Split bertujuan untuk mengamankan penerimaan negara.

Menurutnya, metode PSC cost recovery yang digunakan sebelumnya memang berhasil diterapkan di beberapa negara. Namun, khusus di Indonesia, hal ini menjadi beban setelah cost recovery lebih besar dibanding Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas.

Pada 2016, angka PNBP migas sebesar Rp44,9 triliun jauh lebih rendah dibanding cost recovery sebesar Rp152,7 triliun. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*