DEN Apresiasi Terbitnya Permen Pengembangan EBT

0
223
DEN Apresiasi Terbitnya Permen Pengembangan EBT
Foto : setkab.go.id

DEN Apresiasi Terbitnya Permen Pengembangan EBT

 

indoPetroNews- Upaya pemerintah untuk mendorong pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) di tengah makin menipisnya cadangan energi berbasis fosil terus dilakukan. Salah satu dengan diterbitkannya Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik.

Regulasi ini pun diapresiasi oleh Dewan Energi Nasional (DEN) sebagai salah satu pemicu pembangunanan EBT. Apa alasannya?

“Permen ini justru memicu pembangunan EBT tetapi ada pergeseran mendasar. Yang semula feed in tariff ditentukan berdasarkan biaya produksi dari pihak investor, pemerintah saat ini menggeser biaya produksi pihak PLN yang menentukan feed in tariffnya. Inilah kebijakan pemerintah,” kata Rinaldy Dalimi, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) dalam satu diskusi pada Minggu (26/2/2017) di Jakarta.

Kebijakan ini harus disusul dengan langkah-langkah pendukung agar perubahan mendasar ini tantangannya bisa diatasi.

“Bila kita hanya melihat dari pihak investor bpp yang menentukan feed in tariff diubah yang menentukan tarif adalah PLN maka kemungkinan besar pihak investor yang selama ini merasa biaya produksi mereka yang dapat menentukan feed in tariff kemudian diubah menjadi PLN yang menentukan feed in tariff nya oleh PLN, kemungkinan ada suasana yang tidak terlalu nyaman,” paparnya. Namun bagi PLN, kebijakan baru ini akan membuat PLN tidak alasan untuk tidak membeli EBT.

Permen ini, lanjutnya, akan memicu pengembangan EBT menggeliat. Namun ada pergeseran, yang semula berpusat di Jawa bergeser ke luar Jawa.

Seperti diketahui, Permen 12/2017 ini adalah regulasi yang menetapkan patokan harga maksimum untuk listrik dari tenaga matahari, angin, air, biomassa, biogas, sampah, dan panas bumi.

Patokan tarif energi batu terbarukan (EBT) bertujuan untuk menurunkan biaya pokok produksi (BPP) listrik sekaligus memenuhi kebutuhan tenaga listrik di lokasi yang tidak ada sumber energi primer lain.

Secara ringkas, berikut daftar harga maksimal untuk listrik dari pembangkit EBT yang dipatok oleh Menteri ESDM Jonan:

PLTS : 85% BPP setempat
PLTB : 85% BPP setempat
PLTA di bawah 10 MW : 85% BPP setempat
PLTBm : 85% BPP setempat
PLTBg : 85% BPP setempat
PLTSa : 100% BPP setempat
PLTP : 100% BPP setempat

Permen ESDM 12/2017 mulai diundangkan pada 30 Januari 2017. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*