Ada 7 Jalan Menuju Keamanan Energi Versi Wartawan

33400
Ada 7 Jalan Menuju Keamanan Energi Versi Wartawan
dok. istimewa

Ada 7 Jalan Menuju Keamanan Energi Versi Wartawan

Ada 7 Jalan Menuju Keamanan Energi Versi Wartawan
dok. istimewa

indoPetroNews- Negara Singapura sama sekali tidak memiliki sumber minyak atau gas (migas), tetapi faktanya negeri dengan julukan Seribu Satu Larangan, ini tetap mampu bersaing secara ekonomi di tingkat global. Ironisnya, Indonesia yang memiliki sumber daya alam di bidang migas justru mengimpor minyak dari Singapura.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, Indonesia mengimpor minyak dari Singapura 1.496.151.057 Kg. Nilainya mencapai US$ 751.699.194 atau sekitar Rp 10 triliun lebih dengan kurs Rp 13.500/US$. Tentu saja ini bukan jumlah volume yang sedikit.

Fakta menyakitkan ini yang membuat seorang wartawan energi (termasuk bangsa ini) bermuram durja. Lalu kegundahgulanaan inilah yang membuat Ishaq untuk menulis buku berjudul “7 Jalan Menuju Keamanan Energi”. Menurut penuturan penulisnya, karya tersebut merupakan kumpulan hasil wawancara yang dibumbui sedikit analisis tentang kondisi sektor energi Indonesia saat ini, yang dalam tiga tahun terakhir mengalami kelesuan.

Buku yang dibagi dalam 7 Bab ini menguraikan kembali makna keamanan energi, yang pada intinya adalah bagaimana mencapai kebutuhan energi nasional tanpa harus terjebak dalam pro kontra urgensi impor energi. Keamanan energi berbeda dengan kedaulatan energi ataupun ketahanan energi. Keamanan energi lebih menitikberatkan tentang upaya sebuah negara untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu negara paling konkrit adalah Singapura, yang sama sekali tidak memiliki sumber minyak atau gas, tetapi tetap mampu bersaing secara ekonomi.

Di bagian lain, buku ini juga membahas tentang pentingnya peran pemerintah untuk memberikan hak istimewa kepada PT Pertamina (Persero) sebagai BUMN dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Pun begitu, kehadiran perusahaan energi milik asing juga tidak perlu dipersoalkan selama kebutuhan energi nasional bisa terpenuhi. Dengan demikian, keamanan energi alias energy security merupakan cita-cita yang harus diperjuangkan bersama-sama, tanpa harus membeda-bedakan perusahaan nasional ataupun asing.

Sebagai sebuah karya wartawan yang berkecimpung di sektor energi, kata sang penulis, dirinya menyadari bukunya lebih berisi permenungan singkat yang belum mampu menjawab secara utuh tentang bagaimana membangun energi Indonesia ke arah yang lebih baik. Tetapi paling tidak, lanjutnya, dia berharap buku karyanya ini menambah khazanah ilmu pengetahuan bidang energi Nusantara. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*