Gross Split Diprediksi Bisa Mompa Minat Investasi Migas

0
32
Gross Split Diprediksi Bisa Mompa Minat Investasi Migas
istimewa

Gross Split Diprediksi Bisa Mompa Minat Investasi Migas

 

indoPetroNews- Penawaran lelang Wilayah Kerja (WK) minyak dan gas bumi (migas) dalam beberapa tahun terakhir ini sepi peminat. Apa penyebabnya?

Ada beberapa upaya ditempuh pemerintah untuk mendongkrak investasi di sektor migas. Diantaranya adalah mengubah skema PSC cost recovery dengan Gross Split. “Dengan Gross Split pihak investor dapat 43 untuk base splitnya. Kalau skema Cost Recovery hanya 15,” kata Djoko Siswanto, Deputi Pengendalian Pengadaan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) saat memberikan Kuliah Terbuka dengan tema ‘Peran SKK Migas Dalam Memperkuat Pendapatan Nasional’ pada Selasa (13/6/2017) di Aula Gedung B lantai 5 Sekretariat Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan STAM, Jakarta Selatan. Selain Djoko Siswanto, pemberi kuliah umum lainnya adalah Indarto Wibowo, Manager Penerapan dan Pengawasan TKDN Divisi Pengelolaan Rantai Suplai dan Analisis Biaya SKK Migas.

Selain itu, menurut Djoko, masalah signature bonus juga mulai direvisi. “Signature bonus dari nilai ratusan juta USD kita pangkas jadi puluhan juta USD. Di beberapa negara tetangga, signature bonus berkisar puluhan juta USD, tidak sampai ratusan juta USD,” terang Djoko. Inilah tantangan industri hulu migas agar supaya lelang WK bisa laku.

Dia menandaskan, bila ada yang tandatangan maka otomatis ada investasi. “Bila ada investasi maka ada uang masuk, ada pembayaran pajak, ada tenaga kerja, ada kegiatan pemboran dan perekonomian tumbuh,” katanya.

Djoko mengungkapkan bahwa SKK Migas sedang melakukan kegiatan pengembangan dan pengawasan terhadap beberapa lapangan migas. Diantaranya adalah lapangan Eni, yang onstream bulan ini. Ada juga Medco, BP Train 3 dan Masela yang belum dikembangkan. “Terdapat 101 WK yang eksplorasi. Ada 52 WK yang ngebor dan seismik. Ada 39 WK yang tidak dapat menemukan migas sehingga dia harus mengembalikan WK nya ke pemerintah,” tandas Djoko.

Lebih jauh Djoko menyatakan terdapat karakteristik khas migas di Indonesia. Diantaranya adalah memerlukan teknologi tinggi, padat modal, resiko tinggi dan kemampuan profesionalisme yang tinggi. (Sofyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*